Minggu , September 20 2020
Home / Daerah / Jika Benar Fahmi Mundur, Maka Beliau Bersikap Negarawan

Jika Benar Fahmi Mundur, Maka Beliau Bersikap Negarawan

Majene – Sebaiknya memang politik itu tetap mengedepankan rasionalitas dan fairness (kejujuran) ketimbang ambisius untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan meskipun dalam kondisi tidak MAMPU.

Mampu dalam pengertian kapasitas, integritas, teruji tidak punya prestasi, atau karena sakit. Semua pihak terutama bakal calon, sebaiknya tetap memberikan teladan politik bahwa menjadi seorang Pemimpin itu bukan urusan sederhana alias mudah.

“Melainkan teramat sulit karena harus mampu menjadi solusi dan jawaban atas kompleksitas persoalan di tengah masyarakat”.

Jiwa dan raga harus didesikasikan bahkan diwakafkan untuk mewujudkan kesejhateraan masyarakat. Ketika seseorang ditetapkan menjadi pemimpin, maka dia bukan lagi menjadi milik privace isteri, anak, orang tua dan keluarga tetapi menjelma menjadi milik rakyat sejumlah penduduk yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, kepemimpinan harus diletakkan dalam kerangka kerja keras, sungguh-sungguh, sepenuh waktu dan hati demi melayani masyarakat.

“Kepemimpinan membutuhkan sosok yang sehat secara rohani dan kuat sehat fisik karena ia akan dan sedang ditunggu rakyat di setiap waktu dan di semua tempat bahkan pinggir-pinggir desa dan kampung untuk hadir mendengar, melihat, merasakan dan mengeksekusi segala persoalan yabg tengah dihadapi masyarakat. Artinya Kepemimpinan akan menyedot energy besar demi memenuhi ekspektasi publik,” kata Akbar salah seorang tokoh pemuda Majene kepada mediasulbar.com di Majene, Minggu, 13/9.

Pilihan bupati Majene, Fahmi Massiara yang dikabarkan mundur dalam pertarungan politik Pilkada tahun ini karena mendera sakit  (jika benar), adalah bukti bahwa beliau memiliki dimensi kesadaran, kearifan dan kebijksanaan dalam memandang oposisi atau relasi kekuasaan dan perjuangan kesejahteraan rakyat.

“Kita mesti memberikan apresiasi kepada pak Fahmi Massiara atas keputusan sulit ditengah tahapan pesta demokrasi Pilkada yang memilih mundur adalah sikap sosok negarawan. Akan berakibat opini buruk jika tetap saja ngotot maju di Pilkada meski sedang berjuang melawan penyakit beliau,” nilai Akbar.****

Penulis: Akbar

Editor: Acho Antara

Produksi: by media Sulbar.com

About admin

Awalnya saya tak pernah berpikir untuk menjadi jurnalis. Pada tahun 2006, saya dipaksa untuk menjadi pewarta oleh om MP yang saat itu bekerja di koran harian Mercusuar, Palu, Sulteng. Sejak itu, meski harus tertatih-tatih, akhirnya profesi ini saya geluti dengan serius untuk menjadi jurnalis yang profesional. Tepat tahun 2008, saya milih hijrah dari Palu ke Mamuju untuk mengembankan koran Suara Sulbar. Namun usianya hanya setahun sehingga saat itu ikut memberanikan diri melamar di perusahaan BUMN LKBN Antara Biro Sulselbar. Bekerja di kantor berita negara ini cukup lama. Bahkan masyarakat Sulbar lebih akrab mengenal nama saya dengan sapaan Acho Antara alias A. Acho Ahmad AH. Selepas bekerja di LKBN Antara pada tahun 2017, saya pun mendirikan media online Mediasulbar. Com dibaeah naingan PT Media Sulawesi Barat, sebagai jembatan untuk menyalurkan informasi, edukasi bagi masyarakat Sulbar. Kami bertekad kuat, kelak mediasulbar. Com jadi referensi oleh pembaca berita guna kemajuan daerah di Tanah Malaqbi Mandar.. Wassalam..
error: Content is protected !!