150 Tukik Dilepaskan Ke Laut Lepas Mekkatta

MajeneSejumlah pemerhati, komunitas pemuda, Babinkamtibmas, serta Lembaga Perguruan Tinggi di Indonesia melakukan pelepasan Tukik ( anak Penyu ) ke laut, Pantai Alle-alle, Desa Mekkatta Kecamatan Malunda, kabupaten Majene, Sulbar. Minggu, 4 Juli 2021.

Tampak ikut dalam kegiatan ini antara lain, Sanggar Seni Tasende, Komunitas Rumah kita, mahasiswa Unsulbar, mahasiswa Universitas Malikus Saleh Banda Aceh, Pemerhati Kelautan dan Kemaritiman Indonesia Ridwan Alimuddin pemerhati kebudayaan Indonesia, Bustan Basir Maras, serta Personil Babinkamtibmas Polsek Malunda, Briptu Rahmat.

Sebelum tukik dilepaskan ke laut, kegaiatan pelepasan di mulai dengan pengantar dari Ali, Ridwan Alimuddin dan Bustan Basir Maras.

Dalam pengantarnya, Ali menyampaikan bahwa kagiatan ini sangat perlu dilakukan dalam rangka melanjutkan populasi penyu, yang diketahui sudah hampir melewati ke punahan.

Ali berharap agar tukik yang dilepas bisa menambah populasi penyu dan sisik di wilayah Desa Mekkatta.

Ali korumta sebagai penemu Tukik, menjelaskan bahwa Tukik tersebut ditemukan pada malam hari sekitar pantai alle alle, Tepatnya pada bulan April 2021 yang lalu.

Kronologis penemuan,, bermula pada waktu ada kegiatan malam di Coffe Gazebo. Ali tiba tiba dikagetkan dengan kemunculan tukik yang berhamburan dipinggir pantai.

Diperkirakan, tukik tersebut baru saja menetas beberapa jam sebelum ditemukan oleh Ali menggunakan senter Android miliknya.

Dengan bantuan para pengunjung, tukik tersebut berhasil diselamatkan Oleh mereka sejumlah 150 buah, lalu disimpan kedalam baskon besar. Esok harinya, Ali mengamankan tukik tersebut kedalam kolam yang terbuat dari terpal sampai hari pelepasan.

Berselang 1 Minggu, Ali kembali menemukan penyu di dekat cafenya, sedang bertelur. namun tidak bisa mendekat Karena penyu merasa terganggu. Akhirnya,
Ali hanya bisa mengamati dari jauh hingga penyu tersebut selesai bertelur dan kembali ke laut.

Ali kemudian mengamankan tempat tersebut dengan menggunakan jaring, berharap ingin di tetaskan, Namun tidak berhasil yang disebabkan oleh faktor alam.

Ridwan Alimuddin selaku pemerhati maritim dan kelautan mengatakan bahwa kegiatan ini sangat menarik diteliti, karena di dunia saat ini, hanya ditemukan 8 jenis penyu. 5 diantaranya ada di Indonesia.

Selain itu, Ridwan mengatakan bahwa secara tradisi kita ada hubungan dengan Penyu. Oleh Karena di masa kepemimpinan Ammana I Wewang, Seorang pemimipin harus dilantik di atas penyu, berbeda dengan Balanipa yang dilantik diatas kepala kerbau pada masa itu.

Dampak dari kegiatan hari ini, akan dirasakan pada 20 tahun yang akan datang. Tukik yang akan dilepaskan sebentar, itu akan datang kembali bertelur dimana dia dilahirkan.”itulah Naluri penyu.”ungkap Ridwan di depan podium Gazebo & Coffe Korumta.

Menanggapi tentang telur penyu yang gagal menetas, beliau mengatakan bahwa itu dipengaruhi faktor getaran yg dilalui oleh orang, bisa juga karena faktor kelembaban tanah.

“Penyu itu kan sensitif, mengikuti cahaya. Secara naluri, penyu akan mengikuti cahaya. Makanya nanti, kalau disini ada lagi tukik, lampunya dibuat remang remang biar induknya tertarik untuk kembali bertelur.”Ucapnya.

Dalam waktu dekat, dirinya akan berkeliling untuk kegiatan serupa tentang penyu. Sebab saat ini, belum ada lembaga yang betul betul konsen meneliti soal penyu. Dia juga akan segera merampungkan sebuah buku tentang penyu, karena hal itu sangat dibutuhkan untuk literasi kelautan kita.

Senada dengan itu, Bustan Basir Maras menyampaikan apresiasi kepada Ali selaku penemu tukik. Karena menurutnya bahwa penyu adalah Rahmat yang diturunkan Allah ke pantai untuk dilestarikan dan dijaga. Penyu ini sangat unik, tak perlu lagi suami siaga, sebab bisa bertelur kapan saja dan dimana.” Ucap pak Bustan berceloteh.

Waktu masih berusia 10 tahun, dirinya sering diajak sang nenek Mencari telur penyu pada malam hari di Pantai ini, melihat langsung aktifitas penyu dimalam hari, mengikuti jejaknya sampai dia bertelur.” Kenang Bustan dengan neneknya bernama penjong”.

Dirinya beraharap agar keaslian pantai tetap dijaga, dan dipelihara, tidak melakukan pengrusakan.

“Sebab hubungannya dengan Kosmologi, di Pantai tersebut tidak ada pengrusakan atau penambangan pasir Sebab generasi korumta berhasil melakukan edukasi kepada warga setempat.” Ungkap pak Bustan mengakhiri pengantarnya pagi tadi.

Setelah selesai acara seremonial tersebut, lalu dilanjutkan dengan pelepasan tukik ke laut. Tukik penyu diberikan satu persatu, kepada para anak anak dan para mahasiswa, lalu di lepaskan secara bersama sama dibawah komando Bustan Basir Maras selaku pendiri korumta..**

Rekomendasi Berita

Back to top button