Bangga “Ku” Sebagai Seorang Pewarta

Oleh: Andreas

Malam itu, kurang lebih seminggu yang lalu. Setelah beberapa jam lamanya saya berdiskusi dengan salah satu wartawan senior local, yang kini mencoba merintis usaha Media Darling (Online) bernama Media Sulbar.co.id, sebut saja namanya Aco panggilan akrab pria yang memlilik nama lengkap  Aco Ahmad Andi Hamid.

Ruangan kecil dengan ukuran 4x 8 meter persegi,  berada  tepat  dibelakang gedung tinggi bernama Bank Sulselbar, menjadi tempat favorit kami berdiskusi melepas penat – seharian mencari berita untuk dikumpulkan dalam artikel media milik kami berdua dibawah naungan PT Media Sulawesi Barat (Koran Tras Sulbar dan Media Sulbar.com – Red)  topic yang sering kami diskusikan pun beragam namun tetap didominasi seputar aktifitas kami sehari – hari sebagai seorang pencari berita.

Sebagai anak baru didunia kewartawanan, sudah menjadi keharusan untuk saya banyak menimbah ilmu dan pengalaman dari para senior – senior yang lebih dahulu menjalani profesi yang sangat jarang diminati kalangan anak mudah Zaman sekarang. (Presepsi saya pribadi) jika dibandingkan dengan pekerjaan PNS, Dokter, polisi tentara atau pekerjaan lainya yang seolah menjadi impian buat para pencari kerja karena dianggap dapat menopang kehidupan dikemudian hari.

Dalam diskusi, baik yang saya lakukan dengan Aco Ahmad pekan  lalu atau ditempat awal saya mengenal dunia kewartawanan, sebut saja dikantor Redaksi Tribun Sulbar bersama Zainuddin (Pimpred) maupun bersama Senior yang sering saya panggil Sarman,  Pimpinan redaksi majalah tipo. . sering  kalimat   ini “Menulis adalah bekerja untuk keabadian” keluar dan diucapkan saat akhir – akhir diskusi –  Sebuah ungkapan yang dikutip dari pitutur Pramoedya Ananta Toer, sang legenda sastar yang terkenal dengan ragam judul buku seperti Dalam Jejak Langka dan Rumah Kaca serta beberapa judul buku lainya yang membuming dan sempat dilarang peredarannya di zaman orde baru.

Pitutur Ananta Toer yang sering saya dengar dan dibahasakan oleh para senior, baik diruang diskusi yang sifatnya folmal mau pun  didalam perbincangan ringan disebuah warung kopi, mengundang keingintahuanku, soal makna dari kalimat tersebut. Berbagai referensi pun  coba saya utak atik satu persatu, baik melalui medium buku atau sekedar mencari referensi di Internet, guna menghilangkan rasa keingin tahuanku itu.

Selama beberapa hari, setelah membaca beberapa referensi atau  artikel yang membahas persoalan yang beberapa waktu belakangan ini terus menggelitik rasa penasaranku. Akhirnya pada titik tertentu, kesimpulan pun kudapatkan dan sedikit banyaknya membuatku paham serta memahami bahwa kalimat yang sering dilontarkan para senior itu merupakan petua buat saya yang baru dalam dunia kewartawanan. Intinya secara tersirat  para senior hanya ingin membuatku paham bahwa menjadi pewarta, ternyata tak hanya bermodal Kartu Pers semata, atau alat rekam. Tapi lebih dari itu, bergumul dalam profesi ini menuntut kita untuk siapa dalam setiap resiko demi tegaknya Idealisme yang menjadi jati diri seorang pewarta, apa Itu ? yah! Memberitakan kebenaran  walaupun kebenaran itu memiliki dampak resiko bagi sang pewarta itu sendiri.

Selain itu, pemahaman baru ini pun mengajarkanku bahwa bekerja  bukan hanya berbicara semata-mata soal perut belaka,atau soal impian akan memiliki hidup  layak, namun terkhusus untuk seorang pewarta, bekerja  tentu memiliki makna yang lebih besar, yaitu bekerja atas nama keabadian yang kelak akan dikenang oleh generasi selanjutnya dengan torehan catatan sejahrah berupa karya . “ Hidup Itu Singkat, Sedangkan Karya Bersifat Abdi…!  ars longa vita brevis……  

Catatan sederhana nan singkat ini adalah dinamika yang saya dapatkan selama saya bergumul dalam dunia para pencari berita, khususnya di Provinsi Sulbar. Catatan ini pun merupakan opini belaka yang  semuanya itu merefleksikan kegiatan saya sehari – hari sebagai insan Pers. Namun satu hal yang terpenting, saat ini adalah makin bangga akan profesi yang ku jalani ini serta ikut dalam menjaga   menjaga idealisme dan jati diri yang telah dirawat lama oleh para senior-senior yang membuat profesi kami ini dipercaya public mengawal proses demokrasi demi tegaknya nilai- nilai keadilan untuk perubahan (Opini)

Rekomendasi Berita

Back to top button