Ancaman Krisis Baru Akibat Konflik Rusia Vs Ukraina

UKRAINA – Asap hitam mengepul dari bandara militer di Chuguyev dekat Kharkiv, Ukraina, Kamis (24/2/2022). Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengumumkan operasi militer skala penuh di Ukraina pada Kamis pagi, memberitahu pasukan Ukraina untuk meletakkan senjata mereka dan memperingatkan setiap pasukan yang mengganggu akan menghadapi konsekuensinya.AFP/ARIS MESSINISAsap hitam mengepul dari bandara militer di Chuguyev dekat Kharkiv, Ukraina, Kamis (24/2/2022).

Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengumumkan operasi militer skala penuh di Ukraina pada Kamis pagi, memberitahu pasukan Ukraina untuk meletakkan senjata mereka dan memperingatkan setiap pasukan yang mengganggu akan menghadapi konsekuensinya.

DUNIA memasuki fase baru konflik terbuka yang ditandai masuknya pasukan Rusia ke wilayah Ukraina pada 24 Februari 2022 lalu.

Masuknya pasukan Rusia dengan dalih operasi militer khusus dan menjaga stabilitas di wilayah Timur Ukraina memunculkan kekhawatiran baru, tidak saja bagi Ukraina dan Eropa, tetapi juga negara-negara lain di dunia.

Tidak dapat dipungkiri, konflik (yang mengarah pada perang terbuka) akan memberikan dampak negatif pada sektor ekonomi global.

Ancaman ini semakin nyata jika melihat posisi Rusia dan Ukraina sebagai produsen utama bahan baku produksi seperti minyak, gas alam, dan gandum.

Rusia dan Ukraina
Data dari S&P Global Platts, pemasok minyak mentah terbesar di dunia saat ini adalah Arab Saudi dan Rusia. Keduanya memproduksi minyak mentah dengan kapasitas 10,08 juta barrel per hari.

Jika melihat dari total produksi minyak harian, keduanya mengambil porsi 47,8 persen (masing-masing dengan proporsi 23,9 persen).

Menurut data Kantor Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), sebagian besar dari total ekspor minyak Rusia (5 juta barel per hari) ditujukan untuk pasar Eropa dengan proporsi 48 persen.

Sementara menurut Eurostat, ekspor gas alam Rusia ke Eropa memenuhi kebutuhan gas alam Eropa sebesar 41,1 persen. Sekitar 24 persen lainnya dipasok oleh Norwegia.

Seiring dengan dihentikannya proses sertifikasi Nord-Stream-2 oleh Jerman, harga gas alam di Eropa mulai menanjak naik.

Melihat dari data tersebut, Rusia merupakan pemain utama dalam pemenuhan kebutuhan minyak dan gas alam di Eropa.

Sementara itu, merujuk Observatory of Economic Complexity, pada tahun 2019, Rusia dan Ukraina bersama-sama mengekspor lebih dari seperempat (25,4 persen) gandum dunia.

Jika dilihat lebih detail, Rusia adalah pengekspor gandum terbesar di dunia, menyumbang lebih dari 18 persen ekspor internasional.

Selama ini gandum dilihat sebagai bahan baku penting untuk membuat roti, pasta dan makanan pokok lainnya.

Posisi Rusia dan Ukraina dalam rantai pasokan kebutuhan global tidak dapat dipandang sebelah mata.

Jika eskalasi konflik meningkat, patut dicermati konsekuensi dan ancaman krisis yang akan muncul.

Ancaman krisis baru
Melihat potensi yang dimiliki Rusia dan Ukraina serta kebutuhan masyarakat dunia akan produk-produk Rusia dan Ukraina, ada dua potensi krisis yang perlu menjadi perhatian dunia.

Pertama, krisis harga minyak dan gas sebagai akibat penetapan sanksi ekonomi bagi Rusia.

Kedua, krisis pangan sebagai dampak terganggunya produksi gandum di Ukraina dan distribusi (ekspor) gandum oleh Rusia dan Ukraina.

Jika kita melihat kembali ke belakang, harga minyak mentah jenis brent di pasar internasional pada 1 Desember 2021 adalah 68,87 dollar AS per barel.(KOMPAS.COM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button