Bustam: Tak Ada Alasan Masuk Akal Rubah Logo Majene

MAJENE, – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majene saat ini sedang jadi sorotan, gegara wacana pergantian logo. Pro kontra pun terjadi dari kalangan publik, termasuk budayawan dan antropolog Indonesia Bustam Basir Maras, angkat bicara. Ia menilai bahwa perubahan logo kabupaten Majene tidak masuk akal karena tidak alasan historisnya untuk merubah.

“Logo kabupaten Majene harusnya dibicarakan atau dipikirkan secara historis, artinya logo kabupaten Majene sudah bagus sebenarnya dan hampir tidak ada sesuatu yang memaksa kita hari ini untuk merubah logo tersebut,” kata Bustam dalam akun youtubenya, Jumat (18/02/2022).

Bustam Basir Maras mengatakan beda halnya dengan kabupaten Polmas dan Mamuju yang dulu melakukan perubahan logo. Polmas mekar menjadi kabupaten Polman dan Mamasa, begitu pun dengan kabupaten Mamuju yang mekar menjadi tiga.

“Kabupaten Majene belum pernah terjadi pemekaran sekali pun, lantas atas dasar apa merubah logo Majene saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan pembuatan logo Majene yang dulu di dalamnya ada pemikiran dan tetesan keringat para pendahulu kita, sesuai historinya masing-masing.

Justru, Bustam khawatir jika memang terjadi perubahan logo, maka generasi akan sulit merunut historisnya kabupaten Majene. Perubahan logo bukan hal urgen, dan di dalamnya juga ada cita-cita yang mesti digapai.

“Di dalam logo Majene hari ini, itu ada cita-cita. Pertanyaan? Apakah Majene sudah sampai pada cita-cita yang ada di dalam logo itu. Kalau misalnya tidak sampai berarti masih ada hal-hal urgen yang semestinya kita dahulukan untuk diselesaikan,” pungkas penulis buku Negeri Anak Mandar itu.

“Seharusnya kabupaten Majene mengurusi masalah kerakyatan, masalah kemiskinan, dan recovery pasca gempa, seperti Aholeang yang saat ini masih berada di pengungsian. Harusnya ini yang menjadi perhatian utama pemerintah kita,” tambahnya.

Di samping itu, ia menggambarkan bahwa logo kabupaten Majene hari ini, telah menunjukkan animo masyarakat, menunjukkan peristiwa sosiologis masyarakat yang ada pada saat itu,

Selain itu, menurutnya, wacana perubahan logo terkesan mengada-ada, menggaruk sesuatu yang tidak gatal.

“Kalau cita-cita pembangunan belum tercapai jangan dulu logonya diganti, tetapi cara kita terhadap pembangunan kabupaten Majene,” sarannya.

Terakhir Bustam menyampaikan bahwa ia menolak perubahan logo kabupaten Majene.***(MS05/C)

Penulis Budi Pratama

Editor Aco Antara

Produksi by media Sulbar.com

Rekomendasi Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button