COVID-19, PORTAL VIRTUAL

Penulis Adi Arwan Alimin

Tak ada yang mampu menentukan kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Sejumlah kebijakan pemerintah masih berbenturan ketidakpatuhan warganya.

Lihatlah di mesdos sejumlah warga mengungkapkan keresahan. Kenduri di banyak tempat telah sering dibubarkan, tapi spot pantai masih riang gembira. Jalur arteri Mamuju, misalnya lajurnya riuh-rendah pejalan, pesepeda, dan ratusan warga terlihat nongki hingga sore kemarin.

Gambar ilustrasi

Kecemasan kolektif ini tidak hanya sendirian. Disamping khawatir pada kesiapan sarana bila terjadi ledakan suspect covid ~jika jumlah positif terus menaik. Juga dibarengi kebandelan sebagian yang lain.

Kita mesti menghormati orang-orang yang sukarela mengurung diri di rumahnya, atau mereka yang tetap berjuang untuk mengepulkan dapur. Bukan malah asoi wara-wiri.

Kita sedang bergelayut dalam evolusi sosial yang dipercepat kedatangan pandemi 19. Seolah portal yang selama ini bergerak lamban, tapi sebulan terakhir semuanya berubah drastis.

Sayangnya diantara kita ada yang abai. Masih ada yang menganggap ini sebagai letupan mercon semata. Padahal rentetan yang menanjak dalam angka-angka itu bagai gunung es. Terlihat landai di muka, tapi mana tahu palungnya seperti akar tunggang.

Kebijakan bekerja dari rumah #WFH, belajar di rumah, dan beribadah di rumah tak akan mampu memutus rantai virus corona, bila realitasnya justeru timpang tak optimal di jalanan, dan di ruang-ruang publik.

Kita tengah menuju dunia baru. Yang tak pernah diduga kecepatannya. Kemarin saya menulis bahwa sumber Covid ini telah berada di level penemuan penangkal, yang dibarengi kebijakan mata uang baru, dan Wuhan mulai bernapas.

Di sini kita malah sibuk menghardik warga agar tak ramai di jalanan. Apa yang keliru?

Bahwa ada yang tak mengerti sedang berada di ruang virtual, yang mestinya membimbing ke kompetisi global meski berdiri jauh dari episentrum kebijakan bersegi banyak.

Mamuju, 17 April 2020

Rekomendasi Berita

Back to top button