Dinas Ketapang Sulbar: Pestival Pangan Lokal Bagian Upaya Promosi

MajenePangan Lokal  yang ada di Sulawesi  Barat  sangat  melimpah,  di seluruh wilayah  di tanah Mandar  sebagian besar  masyarakat  yang  memiliki kebun menjadi penopang ekonomi bagi petani yang ada di daerah ini.

Kadis Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Barat, Muchtar SP, mengatakan bahwa, jenis pangan lokal yang dikembangkan masyarakat cukup beragam diantaranya komoditi Pisang, Ubi Kayu, Ubi Umbian, Kedelai, Jagung dan beberapa  tanaman yang memiliki nilai  jual yang sangat  tinggi di pasaran Internasional.

Untuk itu  Pestival Pangan Lokal yang dilaksanakan adalah bentuk support pemerintah untuk mempromosikan potensi hasil pangan yang ada di Sulbar.

Menurutnya, selama  ini  pangan Lokal  di anggap  hanya  menjadi makanan  tambahan, pada hal itu tidak benar, satu  sala satu jenis pangan pengganti beras adalah jagung.

Tingkat produksi komoditas jagung Sulbar telah bernilai export, bukan Cuma itu, pisang dari berbagai jenis menjadi kebutuhan makanan pokok  masyarakat Mandar. Bahkan turut memiliki  nilai  jual baik di pasaran lokal  maupun Export.

“Untuk saat ini komoditi pisang di wilayah Sulawesi Barat umumnya dipasarkan ke Kaltim, terutama pasokan dari daerah Mateng dan Pasangkayu. Bahkan  ratusan ton  setiap  dua hari petani kita telah memasarkan pisang  ke Kalimantan,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pemprov Sulbar, Muhtar,SP saat acara Pestival Pangan lokal di Gedung Assamalewuang, Jum’at, 2/7/2021.

Di tempat yang  sama, Ketua Walhi Sulawesi Barat, Ichsan Willy memberikan pernyataan  bahwa  dengan pelaksanaan Pestival Pangan  Lokal, tentu menjadi kesempatan  bagi masyarakat   petani  untuk menampilkan hasil hasil dari  pertanian dan perkebunan mereka.

Dirinya pun sangat merespon kegiatan  yang dilaksanakan oleh Dinas Ketahanan Pangan Sulbar. Apa lagi melibatkan semua  dinas ketahanan pangan  di  Sulawesi barat.

” Lebih  Jauh ia menjelaskan, selama ini  banyak sekali  binaan  petani  yang ia dampingi, termasuk di Puawang  Desa Buttu Baruga, di daerah Polman  juga ada binaan  Walhi beberapa kelompok Tani, seperti  mereka memproduksi gula Aren ( Golla Mamea) dalam bentuk tepung, selama ini gula merah  bentuk teradisional, bahkan  kelompk tani binaan  sekarang sudah memiliki areal perkebunan pohon Areng  sekitar  dua hektar. Untuk saat ini memang membutuhkan  pendampingan  baik untuk pemasaran maupun  memproduksi  yang lebih banyak. Ini masih kecil kecillan, jika ada keseriusan Pemrov untuk memberdayakan para petani pangan lokal, tidak menutup kemungkinan mereka akan berkembang  dengan produksi  hasil yang lebih banyak,” tutur Iccan.***

Penulis: Wahid

Editor MS

Rekomendasi Berita

Back to top button