oleh

Haeruddin Kian Menguat di Pilkades PAW Desa Mekkatta

MajeneTahapan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Pengganti Antar Waktu (Pilkades PAW) Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, terus bergulir. Dari tiga orang yang ditetapkan sebagai calon, maka figur Muhammad Haeruddin SH diprediksi kian menguat guna merebut hati pemilih yang ada di desa itu.

Wajar saja jika sejumlah tokoh masyarakat Mekkatta memberikan totalitas dukungan terhadap Hendrik sapaan akrab Muhammad Haeruddin di Pilkades yang akan datang. Bukan tanpa alasan, Hendrik dinilai lebih kompeten diantara figur lainnya.

Bahkan sosok pria asal Mekkatta ini pun sempat didapuk sebagai Ketua Pengawas Pemilihan Kepala Daerah (Panwaslu) Kecamatan Malunda pada kontestasi politik pilkada serentak 9 Desember 2020.

Jebolan mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memang dikenal sosok tegas dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas-tugasnya di berbagai organisasi kemahasiswaan hingga organisasi kemasyarakatan.

Kunci sukses dibeberapa organisasi yang ia geluti tentu modal kuat bagi Hendrik guna mendapatkan dukungan mayoritas masyarakat Mekkatta di Pilkades. Apalagi, bekal pengalaman sebagai Lawyer akan melengkapi kepemimpinannya jika masyarakat sepakat mendudukkannya menjadi pemimpin tertinggi di desanya.

Muhammad Haeruddin SH

Lantas Apa Motivasi Besar Sehingga Memilih Maju di Pilkades PAW Desa Mekkatta?

Dalam wawancara singkat dengan kru mediasulbar.com, beberapa hari yang lalu, Hendrik dengan tegas menyampaikan keinginannya maju bukan sekedar mengejar jabatan dan kekuasaan.

“Jabatan itu adalah amanah yang wajib kita pertanggungjawaban dunia akhirati. Maka dari itu, jika masyarakat memberikan dukungannya, maka amanah itu harus kita jalankan sesuai dengan konsep membangun desa yang berkeadilan,” kata Hendrik.

Semangat pembangunan desa saat ini tentu merubah paradigma atau cara pandang masyarakat kita, dalam mewujudkan pembangunan di desa. Terutama sejak disahkannya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. UU ini menempatkan desa sebagai subyek pelaku pembangunan. Sementara warga desa melalui struktur yang ada juga memiliki wewenang penuh menjalankan pembangunan desanya.

Apa hebatnya paradigma Desa Membangun?

Desa membangun memiliki banyak keunggulan karena warga desa menjadi terlibat dalam proses membangun desanya. Paradigma ini memungkinkan warga desa menentukan sendiri prioritas dan visi pembangunannya sendiri karena keputusannya dilakukan dalam Musyawarah Desa. Meski sama-sama membangun ruas jalan atau infrastruktur misalnya, hasilnya bakal berbeda karena partisipasi warga desa bakal membuat manfaat program menjadi jauh lebih besar.

Kedua, masyarakat desa terdorong menjadi mandiri dalam merumuskan langkahnya membangun kesejahteraan desa. Warga juga menjadi jauh lebih bersemangat menjalankan pembangunan desanya karena mereka memiliki hak dan wewenang menentukan apa yang desa mereka butuhkan. Apalagi kini mereka bisa mengelola potensinya secara Swakelola. Cara ini bisa menciptakan efisiensi tinggi.

Kini pembangunan desa juga sudah tidak identik dengan pembangunan fisik lagi. Selama ini pembangunan selalu diartikan sebagai pembangunan fisik. Soalnya program fisik lebih gampang terlihat dan menimbulkan nilai proyek tertentu sehingga bisa menjadi sumber pendapatan bagi pihak yang mengerjakannya.****

Penulis MS

Tentang Penulis: Acho Ahmad

Gambar Gravatar
Pemilik nama lengkap Aco Ahmad Andi Hamid merupakan CEO Mediasulbar Group sekaligus Pendiri dan pemimpin Umum Kantor Berita Online mediasulbar.com kini tengah fokus merambah bisnis industri media dengan meningkatkan performa kualitas sajian berita aktual yang terjadi di daerah. Awalnya saya mencoba belajar jadi koresponden di stasion Metro TV untuk penugasan areal liputan Mamuju pada tahun 2004. Namun saat itu masih sebatas magang dan hanya mampu bertahan beberapa bulan saja. Selanjutnya saya hijrah ke kota Palu di tahun 2006, dan bekerja di koran Harian Mercusuar Sulteng. Seiring berjalannya waktu, tepat akhir tahun 2008, ajakan pulang kampung oleh bapak H Muhammad Saal (Mantan Wakil Bupati Kabupaten Pasangkayu) untuk mendirikan Koran Suara Sulbar yang berkedudukan di Rangas, Mamuju dengan posisi jabatan selaku Pemimpin Redaksi. Namun perusahaan koran ini rupanya usianya hanya setahun saja, sehingga saat itu pun saya cukup stress telah kehilangan pekerjaan. Ujian itu tidak berlangsung lama karena perum LKBN Antara Biro Sulselbar membuka lowongan kerja untuk klasifikasi wartawan. Sebelum mundur di LKBN Antara pada tahun 2017, saya pun sebetulnya lebih awal mendirikan media online Mediasulbar.com dibawah naungan PT Media Sulawesi Barat sejak tahun 2015. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..!!!