Ini Hasil Rapat Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit Edisi Juli 2018

Mamuju – Komoditi kelapa sawit menjadi salah satu potensi unggulan bagi daerah Sulawesi Barat. Bahkan, komoditi ini menjadi penopang ekonomi petani yang ada di wilayah sentra penghasil kebun sawit di Sulbar.

Maka tidak salah jika setiap bulan berjalan penerintah melakukan pengawasan untuk memantau dan menetapkan Harga Tandang Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Melalui Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Sulbar pada medio Juli 2018 kembali melaksanakan rapat penetapan harga TBS yang berlangsung di Aula Distan Sulbar, Jumat 6 Juli 2018.

Pada pertemuan itu, tersirat suasana akrab yang begitu terasa diantara seluruh peserta. Mereka terlihat santai sebelum rapat dimulai.

Dipimpin oleh Kepala Dinas Pertanian Prov Sulbar Ir H Tanawali M.AP bersama Dinas Kabupaten wilayah pengembangan sawit turut hadir diantatanya Disbun Mamuju, Ir Petrus, Distan Mateng Muh. Saihu SP, Disbun Pasangkayu Ir Rusman MM.

Selain itu, juga hadir dari instansi terkait seperti Dinas Perhubungan Jeveri Tonn, dari Biro Ekbang Hj Mulkis, dari Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit) Ir H Mukhtar Tanu, Apkasindo ( A Kasruddin Raja Muda). Begitupun dari PKS juga hadir di antaranya, Astra Group (PT Pasang kayu, PT Letawa dan PT Surya Raya Lestari), Unggul (PT Widya Teknologi Lestari dan PT Mamuju Unggul Lestari) , PT Triniti Palmas Plantation serta beberapa perwakilan petani plasma/WKAK (Wadah Koordinasi Antar Kelompok Tani).

Peserta rapat terlihat serius mendengarkan dan membaca laporan terkait harga TBS yang mengalamai penurunan harga dari bulan lalu sebesar Rp. 1.228,34 menjadi k Rp 1.139,98 per kilogram untuk sawit usia 10-20 tahun dengan indeks K 76,70 persen.

Tanawali menyebutkan, , bahwa penetapan harga ini berdasarkan data yg dikirim dari via e mail 05/07) kemarin dari masing-masing perusahaan yang terlibat dalam penentuan harga ini.

Tidak ada tanggapan dari para peserta rapat, sesaat setelah Tim Pokja menyampaikan penetapan harga tersebut akibat adanya sentimen pasar/penolakan CPO di Negara Eropa.

Pemerntah selalu berupaya memperluas pasar CPO di luar negeri, diluar Eropa hal ini juga denagn ada nya panen besar besaran kedele terutama di Amerika, kerena minyak kedele bisa mengganti fungsi kelapa sawit.

Perlu disadari bahwa yang namanya perdagangan bebas sering tejadi fluktuasi harga, ini diakibat karena adanya gejolak pasar,
Kita sebagai produsen tdk perlu terlalu larut dalam kondisi ini, saya sarankan bgmn upaya tingkatkan produksi, semoga kita bisa memaknai fiolosofi orng bijak mengatakan Tak selamanya mendung itu kelabu,” ucap Kadis Pertanian yang dikenal inovator, motivataor dan religius ini.

Pada kesempatan ini pula Kadis Pertanian yang kreatif ini memang selalu berjuang untuk kepentingan masyarakat/ petani telah melakukan satu terobosan baru lagi yakni adanya MoU antara Dirjenbun dengan Dinas Pertanian Prov Sulbar dalam pemanfaatan dana BPD-KS untuk Replanting/Peremajaan kelapa sawit bagi Plasma dan petani sawit swadaya tahap pertama, seluas 5.000 ha dengan nilai Rp .125 Milyar ( Rp 25.000.000 per ha), yang tersebar di dua kabupaten yakni Kab Pasangkayu dan Mamuju.

“Dalam waktu dekat akan dilaksanakan sosialisasi dan penjelasan teknis dari tim teknis pusat (dirjenbun) dan dari Dinas pertanian Provinsi Sulbar,” tutur Tanawali. (Acho)

Rekomendasi Berita

Back to top button