Industri Mamuju Tengah Penopang Ekonomi Masyarakat

Mamuju – Pada awal tahun 2000-an para petani kakao dann jeruk sangat menyenangkan,apalagi saat indonesia mengalami krisis ekonomi harga kakao melonjak tinggi . namun tidak demikian halnya dengan jeruk . pemerintah mengeluarkan niaga jeruk yang menyebabkan pasaran jeruk tidak jelas dan banyak pohon kakao terserang hama. Sehingga banyak petani beralih ke tanaman sawit.

Para transmigran yang membangun wilayah sulawesi barat,selain mempertahankan padi sebagai hasil bumi ,mengembangkan komuditas perkebunan yakni sawit. Saat ini kabupaten mamuju tengah yang baru satu tahun it sangat mengandalkan sektor perkebunan untuk menopang pembangunan perekonomian daerah

Petani sawit di mamuju tengah memiliki pendapatan bersih RP45 jt.perbulan dari lahan sawit 10 petak. Atas dasa Mantan bupati mamuju Junda maulana ,mengungkapkan ,setelah sawit menjadi primadona petani, alih fungsi lahan tida

Bupati Mateng, Aras Tammauni, mengungkapkan ,setelah sawit menjadi primadona petani, alih fungsi lahan tidak bisa di bendung lagi. Data badan pusat statistik(BPS) 2012 menyebutkan lahan mamuju tengah seluas 11.644,21 hektare.

Kemudian memasuki semester II 2014,luas sawit terus bertambah sekitar 3.000 hektare. Namun,pemkab Mamuju Tengah belum memiliki data berupa luas lahan kakao dan jeruk yang sudah beralih fungsi menjadi sawit “perubahan masif memang terjadi. Kami tidak bisa berbuat banyak. Masyarakat sebagai pemilik lahan menginginkan hal itu. Banyak petani jeruk dan kakao berpindah menjadi petani sawit. Faktanya memang menjadi petani sawit lebih sejahtera . intinya ke sejatraan mereka semakin meningkat ,”kata junda saat ditemui di kantornya

Pak Aras pun optimis dengan mengoptimalkan sektor perkebunan dan pertanian ,kabupaten Mamuju Tengah bisa sejajar dengan Kabupaten Mamuju yang pernah menjadi induknya. Hasil perkebunan sawit diyakini mampu menjadi penopang utama   untuk menggerakkan roda perekonomian daerah tersebut.

Hasil perkebunan sawit di Mamuju Tengah mencapai lebih dari RP 50 miliar per bulan. Itu terlihat saat perusahaan sawit yang beroperasi di Mamuju tengah ,seperti PT Surya Raya Lestari dari Astra Group,membayar hasil panen sawit kepada petani inti,plasma,dan mandiri. Pada umumnya petani sawit yang sukse merupakan transmigran di era 1980-an yang berasal dari bali,jawa,dan nusa tenggara. Para petani sawit bersama perusahaan sawit PT Surya Raya Lestari mendirikan sebuah lembaga keungan mikro (LKM)

Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat bertekad daerah industri dengan mengolah sendiri hasil kekayaan alamnya.”Mamuju Tengah memiliki sejumlah komuditi yang dapat di andalkan untuk memacu perkembangan ekonomi     daerah kata Bupati Mamuju Tengah .junda maulana di Mamuju ,selasa

Ia mengataka,komuditi itu antara lain : sawit,kakao,jagung,jeruk,padi dan banyak lagi lainnya,tersebar pada lima kecamatan di mateng yang memiliki luas 3.086,27 km2 dengan jumlah penduduk diatas 100 ribu jiwa. Namun kata dia komuditi yang dimiliki Mateng dipasarkan dalam bentuk mentah karena tidak diolah dalam bentuk industri sehingga komuditi itu belum maksimal mendorong   pembangunan ekonomi daerah

Oleh karena itu ia mengatakan ,pemerintah di Mateng akan merancang daerahnya menjadi daerah industri dengan mengolah sendiri kekayaan alamnya dalam bentuk industri sehingga ketika dipasarkan komuditi di mateng menjadi hasil idustri jadi yang dapat dipasrkan dengan nilai ekonomi tinggi

“pemerintah akan berupaya membangun industri jadi dengan membangun pabrik kakao,sawit dan jagung agar ketika komuditi itu di pasarkan dapat bernilai ekonomi tinggi dan meningkatkan kesejahteraan mansyarakat dengan meninggkatkan pendapatannya,”katannya

Tambang emas hijau ,istilah untuk sawit dirasakan masyarakat secara umum di Mamuju Tengah dampak perekonomian masyarakat juga terlihat dari pasar kecamatan topoyo yang merupakan pasar teramai di Mamuju Tengah.

Pada tahun 2005,pasar tradisional itu masih relatif sepi ruko-ruko pun terbilang bisa di hitung dengan jari namun,seiring dengan meningkatnya kemakmuran ekonomi masyrakat ,jumlah ruko kian banyak,perbankan juga mulai ramai dengan banyaknya nasabah perbankkan melebarkan sayap untuk menampung dana para petani sawit.

Sebaliknya ,masyarakat nelayan belum bisa menikmati masa kejayaan seperti halmya petani sawit. (Advedtorial)

Rekomendasi Berita

Back to top button