
MAMUJU – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Provinsi Sulawesi Barat mencapai 52.329 kasus pada seluruh kelompok usia berdasarkan laporan monitoring kabupaten/kota dengan data per 5 Oktober 2026.
Dari total tersebut, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada kelompok dewasa sebanyak 20.529 kasus. Selanjutnya, balita sebanyak 13.557 kasus, anak 6.915 kasus, remaja 5.894 kasus, dan lansia sebanyak 5.434 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, mengatakan ISPA dapat menyerang semua kelompok usia sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika mulai mengalami gejala gangguan pernapasan.
“ISPA dapat menyerang semua kelompok usia. Masyarakat perlu mewaspadai gejala seperti batuk, pilek, demam hingga kesulitan bernapas,” kata Nursyamsi, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, kondisi lingkungan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Lingkungan yang kering, perubahan kelembapan udara, aktivitas masyarakat di luar rumah, serta paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.
Termasuk paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta emisi kendaraan yang dapat memperburuk kualitas udara di wilayah terdampak.
Berdasarkan data monitoring, kelompok remaja dan lansia juga menjadi perhatian. Masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar rumah di tengah kondisi udara yang kurang baik diimbau mengurangi paparan langsung terhadap polusi dan asap.
Sementara itu, pada kelompok balita tercatat 13.557 kasus ISPA, yang terdiri dari 692 kasus pneumonia dan 12.865 kasus ISPA bukan pneumonia.
Kasus pneumonia balita tertinggi tercatat di Polewali Mandar sebanyak 420 kasus, kemudian Mamuju 138 kasus, Majene 58 kasus, Mamasa 29 kasus, Pasangkayu 28 kasus, dan Mamuju Tengah 19 kasus.
Dari total 692 kasus pneumonia balita tersebut, sebanyak 616 kasus tercatat telah mendapatkan pelayanan kesehatan.
Nursyamsi mengingatkan para orang tua agar tidak mengabaikan tanda-tanda bahaya pada anak. Gejala seperti napas cepat, sesak atau kesulitan bernapas, lemas, sulit minum, hingga kondisi yang semakin memburuk harus segera mendapat penanganan medis.
“Jika anak mengalami tanda-tanda bahaya, segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Jangan menunggu kondisi menjadi lebih berat,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bersama pemerintah kabupaten dan fasilitas pelayanan kesehatan terus memperkuat upaya promosi kesehatan, pencegahan, deteksi dini, serta pelayanan bagi masyarakat yang mengalami ISPA.
Masyarakat juga diimbau menjaga ventilasi rumah agar tetap baik, menghindari paparan asap rokok dan pembakaran, mengurangi aktivitas di tengah paparan polusi udara, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.
Kewaspadaan tersebut menjadi semakin penting di tengah kondisi lingkungan yang berpotensi meningkatkan paparan asap dan polusi udara di sejumlah wilayah Sulawesi Barat.
Upaya pencegahan dan penanganan ISPA diharapkan dapat terus diperkuat agar masyarakat tetap terlindungi dan kualitas kesehatan warga Sulawesi Barat terjaga.




