Jiwa Yang Jauh

oleh

Nur Salim Ismail

Manusia Agung, pembawa berkah bagi semesta alam, Muhammad saw. Hadirnya sebagai senjata pamungkas bagi para pengingkar kebenaran. Pelipur lara bagi manusia penuh derita. Yang mukjizat ditangguhkan hingga hari pengadilan Ilahi; itulah syafaat Nabi Muhammad saw, rahmatan lil alamin.

 

Kini, beliau hadir dalam gegap gempita bulan maulid. Keberkahannya selalu dinanti oleh mereka yang percaya pada keajaiban, keberkahan dalam dimensi lintas batas. Bahwa Muhammad saw bukanlah hanya dia yang lahir di tahun gajah. Lalu wafat dan dikenang seadanya.

 

Muhammad saw adalah dimensi awal dan akhir, zahir dan batin. Beliau akan terus menanti setiap umat yang merapalkan nama dan mengabadikan ajarannya. Siapa yang menyebutkan namanya, sekali saja, ia akan disambut dengan anugerah kebaikan berlipat lapis. Tak peduli dari bibir mana nama Muhammad dilafadzkan; pengumpat, pendurhaka, pemaki, pezina, pengutuk, penipu. Seluruhnya luluh lantak, hancur lebur oleh kerinduan pada sosok agung itu.

 

Kali ini, Nama Muhammad saw kembali menggema dalam balutan irama rebana hingga marawis, qasidah hingga gambus padang pasir.

 

Dari jiwa yang jauh, ada malu yang tak disangkali. Akankah sosok agung itu bakal merangkul kita di kemudian hari? Ataukah kita hanya akan menghabiskan sisa-sisa nafas dengan teriakan penyesalan?

 

Dari jiwa yang jauh, pesan persaudaraan darinya telah lama disampaikan di hadapan sahabat Nabi kala itu. Bahkan, tak sungkan menyebut orang-orang di majelis itu sebatas sahabat saja.

 

Lalu siapa saudara Nabi? Ialah, mereka yang tak pernah berjumpa, namun tetap saja mengimani kenabian Muhammad saw.

 

Inilah pesan mengharukan bagi setiap penghuni bumi di akhir zaman. Janji itu niscaya. Tapi akankah kita telah pantas disebut saudara Nabi?

 

Barru, 1 Desember 2017

Rekomendasi Berita

Back to top button