Ketika Loyalitas Mengalahkan Termos Kopi

Oleh : Budibento ( Part 1 )

Rabu, 1 September 2021, pukul 18.24. Grup Korcam ber denting dengan bunyi kalimatnya, begini “To all Koorcam diharapkan hadir besok di dinsos, jam 09. pagi, karena ada kunjungan tim Kemensos.”

Setelah infonya Valid, aku pun langsung DM pesan Ahmad Hirman selaku korkab.

Setengah jam berlalu, rekan Herman tiba tiba mengirim sebuah pesan whatsUp yang katanya begini.
“Bang,, gimana besok, Jadi ke dinsos, gk, ? Kalau jadi, aku minta tolong agar Korcamku bisa ikut, maklum cuaca kurang bersahabat. “Tutup Herman.

Hanya Jedah beberapa menit, pesan itu langsung aku iya kan, karena aku tau benar, kalau pak Herman adalah pendamping yang sudah teruji dalam berbagai cobaan atau pun percobaan hingga berhasil di nobatkan sebagai pendamping berprestasi oleh Kementerian sosial RI. Kataku di akhir tulisan, insya Allah.

10 menit kemudian, sebuah pesan whatssUp aku terima lagi dari Sulaiman, yang kalimatnya begini, “bang, sama siapa besok ke dinsos.? aku juga mau ikut di mobilnya.

Walau kadang kurang nyambung, Bagi aku, sulaiman adalah rekan loyal dan royal, hingga akhirnya pesan itu aku iya kan lagi.

Kamis, 2 September 2021, rencana “on the way” bertiga sudah paripurna, sebab kami kuatir terjebak macet di wilayah Kec Tubo Sendana.

Jarum jam bergerak ke angka 7, aku pun bergegas berangkat dengan mengucap bismillah dan berharap hari itu penuh harapan dari sang pengasih Allah SWT.

Dari atas mobil, sebuah lagu iwanfals, menghibur disela perjalanan dengan judul “manusia setengah dewa”.

meskipun lagu itu sudah bosan di dengar orang, bagi aku tidak. Sebab lagu itu adalah spirit dan cita cita perjuangan yang belum dapat terwujudkan di negeri ini.

15 menit berlalu, aku pun tiba di rumah pak Herman yang sudah siap menunggu di simpang jalan, lalu dia bergegas naik ke mobil karena Sulaiman juga sudah lama menunggu di rumah mertuanya dusun Kulasi.

Tepat pukul 7.15, aku langsung tancap gas menuju kecamatan Tubo sendana dengan mulus tanpa kendala sebab tidak terjebak macet seperti hari hari sebelumnya.

On the way road, desa Onang Utara, sulaiman meminta berhenti sebentar di rumah orang tuanya untuk mengambil keperluan pribadi hingga beberapa menit.

Tanpa mengulur waktu, kami melanjutkan lagi perjalanan menuju kecamatan Tammeroddo Sendana.

Sambil menghisap sebatang rokok, kami mencoba berceloteh tentang banyak hal kegiatan hari itu, sebab infonya terlambat dan waktunya sedikit.

Oleh Karena loyalitas diatas segalanya, bagi aku dan Herman, hari itu adalah “Amazing” sebab kami tahu kalau tim Kemensos yang akan tiba adalah mas Guruh adriatno.

Mungkin setiap pendamping punya “the different wishes”.Akan tetapi bagi sulaiman, hari itu adalah pertaruhan berat karena diana istrinya sisa menunggu waktu untuk melahirkan sang buah hati.

Tepat di kampung Karondongan, kami juga berhenti sejenak sebab sulaiman ingin mengajak Ramli mewakili kecamatan Sendana. Konon, hari itu korcam nya berhalangan hadir, sampai akhirnya kami ber empat menuju kecamatan Sendana.

Karena belum sempat sarapan, akhirnya kami sepakat singgah di warung Labuang somba untuk menikmati ikan terbang yang di asap “Made in mandar.

Namun, hari itu ibarat Bagai bungkuk merindukan bulan, karena ternyata ikan asap yang kami inginkan, tak seekor pun nampak di warung itu. Akhirnya, kami hanya bisa makan mie instant, buras, dan gogos.

Konon selama ini, para nelayan diwilayah pesisir somba juga terdampak oleh wabah Pandemi Covid 19.”kata seorang istri nelayan kepadaku.

setelah selesai sarapan, kami, pun melanjutkan lagi perjalanan dari kecamatan Pamboang menuju kota Majene.

Kurang dari 15 menit sebelum tiba, sebuah pesan whatsUp menyampaikan bahwa tim kemensos baru saja tiba dihotel dan akan segera melakukan pertemuan di kantor BNI.

Pukul 09.48. kami telah tiba di kantor BNI majene, yang secara kebetulan hari itu agak kompak memakai seragam PDH warna merah.

“Kunjungan kerumah KPM PKH”

Saat sedang asyik ngobrol dengan Pak Paisal dalam ruang coffe, tiba2 korkab datang menyampaikan agar kami segera keluar kantor karena mas guruh adriatno sudah menunggu kita untuk melakukan “home visit” atau kunjungan ke rumah KPM.

Kunjungan pun dimulai menuju lingkungan tunda, menggunakan mobil yang baru lepas kredit 2 bulan lalu bersama rekan pendamping lain menggunakan sepeda motor mendampingi guruh adriatno.

Tiba dirumah kpm, Guruh adriatno langsung memberikan arahan ke sejumlah pendamping tentang petunjuk pengisian questioner bagi KPM PKH.

Dalam arahannya, Guruh adriatno menyampaikan pentingnya Pertemuan kelompok dan p2k2, bagi KPM. Dirinya berharap kepada KPM agar survey tersebut di isi dengan baik dan benar, jujur dan obyektif sampai selesai, yang dipandu langsung oleh oprator dan sejumlah pendamping.

Kurang lebih setengah jam berlalu. Rombongan tim Kemensos, kembali bergerak menuju lingkungan teppo dan teppo barat.

Atas petunjuk korkab, Rombongan tim Kemensos akhirnya tiba di di lokasi menuju rumah KPM.

Guruh adriatno yang di dampingi oleh korkab korcam Banggae, dan korcam Malunda, akhirnya tiba dilokasi yang pada saat itu di sambut langsung oleh Arsy purnama sari selaku pendamping yang bertugas di wilayah tersebut.

Hanya beberapa puluh meter saja, rombongan akhirnya sampai di rumah KPM.

Dalam kunjungan ini, Guruh adriatno, banyak memberikan motivasi dan edukasi agar KPM bisa mengetahui mekanisme penyaluran bansos. Sebab sampai hari ini, masih sering muncul berbagai permasalahan di lapangan.

Bagi Arsy, hari itu adalah “mercy dan lucky” . Sebab salah satu KPMnya bisa di graduasi melalui edukasi mas guruh adriatno.

Bagi aku, Guruh adriatno adalah dewa fortuna sore itu, karena telah mampu meluluhkan hati KPM sebagai calon graduasi.

Puncak gunung es yang selama ini menemui jalan buntu, akhirnya dipecahkan oleh di saat bulan purnama. Hehe..

Dalam suasana yang penuh canda dan ceria, Guruh adriatno sesekali melontarkan pertanyaan kepada ibu KPM. Sejumlah hal penting juga di tanyakan agar kedepannya bisa terus dipantau perkembangannya oleh pendamping untuk dilaporkan secara berjenjang.

“Kadis perintahkan aku mengantar Tim Kemensos, ke kota Mamuju”

Sore menjelang Maghrib, kegiatan kunjungan bersama tim Kemensos telah selesai, lalu bergerak menuju rumah makan mbak Erna.

Sehabis makan, kadis sosial majene menelpon agar mas guruh adriatno menemui nya terlebih dahulu di kantor dinsos.

Setibanya di dinsos, mas guruh adriatno langsung disambut kadis diruang kerjanya.

Dalam pertemuan tersebut, tampak kadis sosial sibuk memanggil korkab untuk menyiapkan segala administrasi yang dibutuhkan tim Kemensos selama satu hari pul berkegiatan.

Kadis sosial tampak menyampaikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf kepada bapak Guruh adriatno jika selama kunjungan bersama SDM PKH, terdapat kekurangan atau pun kekeliruan dalam pelayanan.

Sore itu, kadis sosial sedianya akan berangkat bersama guruh adriatno ke kota Mamuju, namun tiba2 dibatalkan karena ada kegiatannya yang tak kalah penting.

Akhirnya, kadis memanggil aku ke ruangannya, untuk diperintahkan mengantar bapak Guruh adriatno ke Mamuju sore itu.

Sebelum pamit, Guruh adriatno melakukan foto bareng bersama kadis serta tim SDM PKH Majene, karena diketahui rekan satu timnya sudah lama menunggu di kota Mamuju.

Setelah semuanya beres, kami pun on the way keluar kota Majene, menuju kecamatan Pamboang.

Selepas kec Pamboang, mas guruh mengajak kami untuk berhenti sejenak berfoto di tanggul pantai rewata,a, sampai puas Karena hari itu dirinya memang berencana melakukan explorasi wilayah Sulbar sebelum tiba di bandara. Tetapi tidak kesampaian sebab perjalanan kami sudah jelang Maghrib manuju waktu isya.

Tanpa terasa, posisi kami sudah berada di kec sendana, lalu sepakat mampir ke dalam kedai kopi Indomaret.

Dalam suasana dingin itu, kami berempat nampak menikmati kopi dan roti sesuai selera.

Mas guruh yang pernah jadi pendamping, banyak memberikan inspirasi dan pesan moral, tentang kehidupan semasa kecil. perbincangan sangat mengalir malam itu, namun, dikejar waktu.

Lepas dari kecamatan Sendana menuju kec. Tammeroddo, Guruh adriatno nampak belum selesai minum kopi sejak dari Indomaret somba. Sesekali, dia minum, sekali juga dia tutup kembali dari tempatnya.

Karena hal itu tampak keseringan dalam perjalanan, Sulaiman kemudian berceloteh kepada dia agar tempat kopi itu di berikan saja kepadanya.

Pusuk dicinta bulan pun tiba. Sulaiman malam itu, belum beruntung jadi penumpang, Karena Mas guruh adriatno memberikan “Tumbler” itu kepadaku yang lagi fokus menyetir.

Termos kopi atau Tumbler itu memang berkesan bagi aku karena diberikan oleh orang cerdas dan sukses sejak dari nol, itulah sosok mas guruh adriatno.

Aku berharap, kelak nanti aku juga bisa mengikuti jejaknya. Semoga dengan Tumbler yang bertuliskan social worker itu, dapat mengurangi anomali data sebagai pendamping sosial pkh. Slam SIP, Kemensos hadir.**.

Rekomendasi Berita

Back to top button