Konsorsium Pentahelix Untuk Transformasi Ekonomi Kawasan Transmigrasi Mambi-Mehalaang di Luncurkan di Mamasa

Mamasa, – Bertempat di Kabupaten Mamasa, digelar Focus Group Discussion (FGD) strategis yang melahirkan cetak biru model kolaborasi kelembagaan berbasis Pentahelix untuk mempercepat transformasi ekonomi di Kawasan Transmigrasi Mambi-Mehalaan.

FGD ini menghimpun berbagai pemangku kepentingan untuk merancang solusi terintegrasi untuk mengatasi tantangan rantai nilai pertanian yang masih tradisional dan bergantung pada tengkulak.

Dalam FGD tersebut diserahkan Buku Laporan dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang merupakan kolaborasi antara Kementerian Transmigrasi dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya yang selama 4 bulan menggali data di kawasan transmigrasi tersebut khususnya terkait kelembagaan.

Buku laporan yang dirilis dalam FGD ini mengidentifikasi kelemahan utama sistem saat ini, seperti ketiadaan aktor integrator, kapasitas SDM yang terbatas, pasokan tidak stabil, serta minimnya standar dan digitalisasi.

Sebagai jawaban, diusung model kolaborasi Pentahelix yang melibatkan lima pilar secara sinergis: Komunitas/Masyarakat (Kelompok Tani, BUMDes, dan Koperasi), Bisnis/Swasta, Pemerintah, Akademisi, dan Media.

Dalam paparannya, model ini dirancang untuk menciptakan alur koordinasi dan pengambilan keputusan yang partisipatif, dimulai dari identifikasi kebutuhan di lapangan, analisis akademis, diseminasi media, hingga dukungan kebijakan dan pembiayaan dari dunia usaha. Tujuannya adalah membangun ekosistem ekonomi kawasan yang integratif, responsif, dan berkelanjutan.

Rekomendasi kebijakan konkret dituangkan dalam rencana aksi mendetail untuk enam kelompok lembaga sasaran: Kelompok Tani/KWT, Koperasi, BUMDes, Bisnis/Swasta, Sektor Akademisi, dan Sektor Media. Rekomendasi ini mencakup penguatan kelembagaan kolektif, modernisasi dan hilirisasi produk, digitalisasi data, restrukturisasi pembiayaan, hingga pengembangan sistem informasi pasar.

Prof. Agung Purniawan, selaku Ketua Tim TEP, menegaskan, “Model Pentahelix ini bukan sekadar teori, tetapi sebuah peta jalan operasional. Kolaborasi nyata antar lima pilar ini adalah kunci untuk memutus ketergantungan pada tengkulak dan membangun kedaulatan ekonomi petani. Rencana aksi yang telah dirancang sangat aplikatif dan langsung dapat diimplementasikan di lapangan.”

Kepala Dinas Transmigrasi Kabupaten Mamasa, H. Anwar, S.Pd., M.M., menyatakan, “Kawasan transmigrasi memiliki potensi luar biasa yang selama ini terfragmentasi. Inisiatif kolaboratif ini sejalan dengan visi kami untuk menciptakan permukiman yang mandiri dan ekonomi yang tumbuh. Dukungan dari akademisi dan media dalam model ini sangat kami butuhkan untuk membangun inovasi dan transparansi.”

Hal senada disampaikan oleh Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, S.E., M.M., dalam sambutannya menekankan, “Pemerintah Kabupaten Mamasa berkomitmen penuh untuk mendukung implementasi model kolaborasi ini dengan optimalisasi potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, produk unggulan, dan kelembagaan.

Pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan harus melibatkan semua pihak. “Saya mendorong semua OPD terkait, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan media untuk bersinergi mewujudkan visi bersama: menjadikan Kawasan Transmigrasi Mambi-Mehalaan sebagai wilayah dengan ekosistem ekonomi yang tangguh dan bernilai tambah tinggi.” Pungkasnya.

FGD ini diharapkan menjadi titik awal percepatan pembangunan kelembagaan di kawasan tersebut. Langkah selanjutnya adalah membentuk forum koordinasi tetap dan segera melaksanakan rencana aksi prioritas yang telah disepakati.

Rekomendasi Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button