Melirik Pandai Besi di Desa Pamboborang, Warisan Masyarakat Turun-temurun

Terletak di kampung Galung Paara, Desa Pamboborang, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, terdapat usaha pandai besi “kowiq” yang ada sudah sejak lama.

Desa Pamboborang memang dikenal sebagai pembuat perkakas yang terbuat dari besi, produk kerajinan tangan yang dihasilkan itu, seperti sabit, cangkul, parang, keris, badik, pisau dapur, dan masih banyak lagi.

Terdiri dari enam dusun, diantaranya Konja, Konja Selatan, Pamboborang, Pamboborang Selatan, Galung Paara, dan Galung Paara Selatan.

Untuk warga masyarakat dusun Pamboborang, Pamboborang Selatan, Galung Paara dan Galung Paara Selatan, mayoritas penduduknya bekerja sebagai pembuat “kowiq” atau pandai besi, di samping itu pula ada juga bekerja sebagai petani, dan beternak. Sementara, untuk dusun Konja dan Konja Selatan kebanyakan bekerja sebagai tukang kayu dan tukang batu.

 

Dalam keterangan salah satu warga Galung Paara, bahwa pandai besi di desa Pamboborang sudah berjalan sejak lama, dan sampai sekarang pandai besi masih menjadi penghasilan utama bagi warga masyarakat Galung Paara.

Abd. Darwis salah satu warga yang bekerja sebagai pandai besi mengatakan, “pandai besi yang kami lakukan ini ada sudah lama, sejak dari orang tua hingga sekarang,” ucapnya, Kamis, (23/12/2021).

Untuk pembuatan satu buah Parang “kowiq” dibutuhkan kerjasama yang baik, ada yang memanaskan besi, memukul besi, gerundi besi, hingga pembentukan besi menjadi parang sesuai keinginan. Dengan itu, tentu dibutuhkan kerja sama yang baik antar anggota.

Saat berbincang dengan warga, Abd. Darwis mengatakan, bahwa terdapat sekitar 12 kelompok pandai besi untuk dusun Galung Paara dan Galung Paara Selatan yang bekerja sebagai pembuat parang dari besi. Sementara, untuk seorang istri banyak juga yang bekerja di rumahnya masing-masing untuk menggurinda besi yang sudah diolah dan dipanaskan.

Selain itu, ada juga warga yang hanya bekerja membuat pegangan atau sarung pisau/parang dari bahan kayu, bahkan kerajinan tangan seperti itu ada yang memanfaatkannya pada malam hari.

Hal yang pertama dilakukan saat pembuatan pandai besi, tentunya memanaskan besi terlebih dahulu hingga memerah, selanjutnya diterpa sampai terbentuk seperti badik atau pun parang sesuai model yang diinginkan, lalu setelah itu dihaluskan dengan cara digurinda dan dipanaskan hingga membentuk parang seperti pada umumnya yang siap pakai.

“Pertama tentu kita panaskan dulu, lalu setelah itu dioleskan hingga membentuk seperti kowiq dengan banyak model sesuai keinginan.” Papar warga.

Pandai besi di Galung Paara masih menggunakan tenaga manual atau tenaga manusia secara murni, tidak ada bantuan mesin, mulai dari pemanasan hingga cetakannya.

“Dibentuk saja dengan kreatifitas sendiri tanpa ada bantuan cetakan seperti mesin cetak,” ujarnya.

Besi yang dibuat “kowiq” untuk pandai besi, seperti besi baja, besi mobil, besi bar, besi bada’, besi delman, dan beberapa besi lainnya. Sementara, untuk pemasaran masih sederhana, dengan cara mulut ke mulut, atau melalui kenalan, dan sebagian juga langsung ada pedagang tertentu yang mengambil banyak untuk kemudian dijual kembali di berbagai daerah.

Desa Pamboborang yang memang dikenal dengan kampung pandai besi itu, sebenarnya mendapatkan respon baik dari pemerintah setempat yang biasanya mengadakan pelatihan. Namun, pemerintah belum mampu meminimalisir usaha pandai besi, seperti mengorganisir pembentukan Bumdes. Di samping itu pula, warga menilai bahwa bantuan secara fisik masih sangat minim.

“Kalau bantuan secara fisik tidak ada. Kami sendiri yang harus mencari besi sampai pembuatannya, ataupun besi dari pesanan orang,” tutupnya.(ms04/C)

Rekomendasi Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button