
Laporan : Budi Basir dari lokasi muktamar ke 35 Pon-pes Tambakberas Jombang – Jawa Timur.

KH. Abdul Wahab Hasbullah merupakan salah satu ulama besar yang memiliki peranan sangat penting dalam perjalanan sejarah Islam dan perjuangan kebangsaan Indonesia. Nama beliau tidak dapat dipisahkan dari lahirnya Nahdlatul Ulama (NU), perkembangan pendidikan pesantren, kebangkitan kaum santri, perjuangan melawan penjajahan, serta usaha mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Beliau bukan hanya seorang kiai yang mengajarkan ilmu agama di pesantren. KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang pemikir, pendidik, organisator, penggerak ekonomi umat, pejuang kemerdekaan, dan tokoh yang memiliki pandangan jauh ke depan mengenai hubungan antara Islam dan kebangsaan.
Bagi beliau, kecintaan kepada agama tidak harus dipertentangkan dengan kecintaan kepada tanah air. Sebaliknya, perjuangan membangun bangsa merupakan bagian dari tanggung jawab umat. Pemikiran inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.
Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Abdul Wahab Chasbullah berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2014 tanggal 6 November 2014. Pemerintah menilai beliau berjasa, antara lain, dalam meningkatkan dukungan Nahdlatul Ulama terhadap pemerintah Republik Indonesia pada masa kemerdekaan.
Kelahiran dan Lingkungan Keluarga
KH. Abdul Wahab Hasbullah lahir pada 31 Maret 1888 di Jombang, Jawa Timur. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren yang kuat dan memiliki tradisi keilmuan Islam yang panjang.
Ayah beliau adalah KH. Hasbullah, seorang ulama dan pengasuh Pesantren Tambakberas, Jombang. Lingkungan Tambakberas menjadi tempat pertama bagi KH. Wahab dalam mengenal Al-Qur’an, ilmu agama, kehidupan pesantren, serta tradisi keulamaan.
Sejak kecil beliau telah menunjukkan kecerdasan dan semangat belajar yang tinggi. Namun, pendidikan KH. Wahab tidak berhenti di pesantren keluarganya. Beliau melakukan perjalanan dari satu pesantren ke pesantren lain untuk memperdalam berbagai cabang ilmu keislaman.
Perjalanan menuntut ilmu tersebut kemudian membentuk karakter beliau sebagai ulama yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi juga memiliki keberanian berpikir, kemampuan berorganisasi, kemampuan berdialog, serta kepekaan terhadap persoalan masyarakat dan bangsa.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Masa muda KH. Abdul Wahab Hasbullah diisi dengan perjalanan panjang menimba ilmu. Beliau belajar di sejumlah pesantren, antara lain Pesantren Langitan, Mojosari, Tawangsari, Bangkalan, Branggahan, dan Tebuireng. Beliau juga pernah berguru kepada ulama besar seperti Syaikhona KH. Muhammad Kholil Bangkalan dan KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Setelah menimba ilmu di berbagai pesantren di Jawa, KH. Wahab melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Makkah Al-Mukarramah.
Di Tanah Suci, beliau berguru kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan ulama-ulama lainnya. Pengalaman belajar di Makkah semakin memperluas wawasan keagamaannya dan mempertemukannya dengan berbagai gagasan keislaman yang berkembang di dunia Islam.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika beliau kembali ke Indonesia. KH. Wahab tidak hanya membawa ilmu agama, tetapi juga membawa semangat untuk membangun masyarakat melalui pendidikan, organisasi, persatuan, dan perjuangan.
KH. Wahab Hasbullah dan Kebangkitan Pemikiran
Setelah kembali dari Makkah, KH. Wahab tidak memilih untuk hanya tinggal di lingkungan pesantren. Beliau melihat bahwa Surabaya pada masa itu merupakan salah satu pusat pergerakan nasional dan tempat bertemunya berbagai kelompok pemikiran.
Karena itu, beliau aktif dalam kehidupan masyarakat dan pergerakan. Beliau bergaul dengan berbagai tokoh, termasuk tokoh-tokoh Sarekat Islam. Pengalaman tersebut membuat pemikirannya semakin terbuka terhadap persoalan kebangsaan.
KH. Wahab memahami bahwa umat Islam tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama. Umat juga harus memiliki pendidikan yang kuat, kemampuan ekonomi, organisasi, keberanian berpikir, serta kesadaran untuk membela tanah air.
Dari sinilah lahir berbagai gerakan yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah kebangkitan umat Islam Indonesia.
Tashwirul Afkar: Membangun Tradisi Berpikir
Pada sekitar 1914, KH. Abdul Wahab Hasbullah bersama sejumlah tokoh mendirikan Tashwirul Afkar, yang berarti pergolakan atau gambaran pemikiran.
Tashwirul Afkar menjadi ruang diskusi bagi para ulama, santri, pemuda, dan tokoh masyarakat untuk membicarakan persoalan agama dan kehidupan sosial. Forum ini menjadi salah satu bentuk keberanian KH. Wahab dalam membangun tradisi dialog dan kebebasan berpikir di kalangan umat Islam.
Bagi KH. Wahab, perbedaan pemikiran tidak harus menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Perbedaan dapat menjadi jalan untuk memperluas wawasan selama dilakukan dengan ilmu, adab, dan semangat mencari kebenaran.
Tashwirul Afkar menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan intelektual yang kemudian mengantarkan KH. Wahab kepada perjuangan yang lebih luas.
Nahdlatul Wathan: Pendidikan dan Semangat Kebangsaan
KH. Wahab kemudian menggagas Nahdlatul Wathan, yang berarti Kebangkitan Tanah Air. Gerakan ini bergerak terutama dalam bidang pendidikan dan pembentukan kesadaran kebangsaan.
Pendidikan bagi KH. Wahab bukan hanya bertujuan mencetak orang yang pandai membaca kitab. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang mencintai agama, memiliki akhlak, mencintai tanah air, dan memiliki keberanian untuk memperjuangkan kemaslahatan masyarakat.
Nahdlatul Wathan kemudian berkembang dan menjadi salah satu bagian penting dari jaringan pendidikan serta pergerakan Islam pada masa itu.
Dari gagasan inilah terlihat jelas bahwa sejak sebelum berdirinya NU, KH. Wahab sudah memperkenalkan hubungan yang erat antara Islam, pendidikan, persatuan, dan nasionalisme.
Nahdlatut Tujjar: Membangun Kekuatan Ekonomi Umat
Perjuangan KH. Wahab tidak berhenti pada bidang pendidikan dan pemikiran. Beliau juga menyadari bahwa umat akan sulit mandiri apabila lemah dalam bidang ekonomi.
Karena itu, bersama KH. Hasyim Asy’ari dan sejumlah tokoh lainnya, beliau turut mengembangkan Nahdlatut Tujjar, sebuah gerakan yang berkaitan dengan pemberdayaan para pedagang dan ekonomi umat.
Pemikiran ini menunjukkan bahwa KH. Wahab mempunyai pandangan yang menyeluruh. Menurut semangat perjuangannya, kebangkitan umat harus mencakup:
ilmu, pendidikan, ekonomi, organisasi, persatuan, dan perjuangan kebangsaan.
Syubbanul Wathan dan Semangat Pemuda
KH. Wahab juga memberikan perhatian besar kepada generasi muda. Beliau memahami bahwa masa depan bangsa berada di tangan para pemuda.
Karena itu, muncul gerakan Syubbanul Wathan, atau Pemuda Tanah Air. Gerakan ini menanamkan semangat cinta tanah air kepada generasi muda Islam. Dalam perkembangan sejarahnya, gerakan kepemudaan tersebut memiliki hubungan penting dengan lahirnya tradisi kepemudaan NU yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Pemuda Ansor.
Semangat cinta tanah air yang dikembangkan KH. Wahab bukan sekadar slogan. Ia ingin membentuk generasi muda yang memiliki keberanian, tanggung jawab, kecintaan kepada bangsa, dan kesiapan untuk berkorban demi kepentingan masyarakat.
Komite Hijaz dan Jalan Menuju Lahirnya NU
Perjuangan KH. Wahab semakin luas ketika muncul persoalan yang menyangkut kehidupan keagamaan umat Islam di Tanah Suci.
KH. Wahab kemudian memainkan peranan penting dalam Komite Hijaz, yang menjadi salah satu mata rantai penting menuju berdirinya Nahdlatul Ulama.
Dalam proses tersebut, KH. Wahab berdiskusi dan berkomunikasi dengan para ulama, khususnya KH. Hasyim Asy’ari. Upaya tersebut akhirnya mengantarkan para ulama pesantren pada sebuah kesepakatan untuk membentuk organisasi yang mampu menjadi wadah perjuangan umat Islam tradisional Indonesia.
*Ribuan orang, Ziarah ke makam KH. Abdul wahab hasbullah*
Makom KH, Abdul wahab hasbullah terus ramai dan di padati banyak pengunjung Sejak dimulainya kegiatan muktamar ke 35 tambak beras jombang.
Para pengunjung tampak memadati lokasi makom beliau setiap waktu. Krn makom ini terus dibuka 24 jam selama pelaksanaan kegiatan muktamar berlangsung.
Rata rata pengunjung setiap hari nya mencapai ribuan orang, dan kebanyakan di dominasi olehi pengunjung muktamar dari luar daerah, seperti pengurus PWNU & PCNU, muslimat, fatayat, GP, Ansor, PMII, pagar nusa, MWCNU, serta masyarakat umum lainnya.
Para pengunjung yang datang tampak silih berganti memasuki lokasi makam untuk berziarah dan mengirimkan doa untuk KH.Abdul wahab hasbullah sebagai salah waliullah sekaligus pahlawan nasional dalam masa pergerakan Indonesia di zaman perjuangan.
Untuk terus mengenang jasa dan menghormati beliau, pihak makom menyiapkan puluhan foto bergambar di sekitar makom. Selain itu, pihak pengelolah juga menyiapkan jasa penjualan buku bacaan di halaman masjid untuk para penngunjung yang datang ke makom tersebut.**




