MERAJUT KEMBALI ASA DIBALIK SERPIHAN BANGUNAN PASCA BENCANA GEMPA MAJENE-MAMUJU

( Catatan untuk Pendampin Desa dalam membangkitkan semangat masyarakat yang terdampak bencana )

Oleh :

Muhammad Fauzan, ST., S.Sos., M.Si.

ASN di Dinas PMD Kab. Majene

Ex. Fasilitator Teknik PNPM-MP

 

 

“ Tiada suatu bencanapun yang menimpa bumi dan (tidakpula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian mudah bagi Allah “(QS. Al-Hadid (57) : 22 ).

Penggalan kalimat diatas adalah sebuah quote yang selalalu harus diingat bahwa bencana itu pasti akan selalu hadir di tengah kita sebagai ummat manusia, apalagi menurut para peneliti kondisi geografis wilayah indonesia berada di Zona Cincin Api (Ring Of Fire) Fasifik yang tak lain adalah 90 persen lokasi gempa di dunia, seperti halnya gempa bumi yang terjadi di tanah Malaqbiq Sulawesi barat pada tanggal 15 Januari 2021 yang menyisakan banyak duka yang mendalam bagi warganya.

Betapa tidak banyaknya korban yang berjatuhan serta ribuan rumah dan gedung hancur rata dengan tanah sehingga menimbulkan trauma yang begitu besar dan mengerikan bagi masyarakat terutama bagi anak-anak yang kini mempunyai pengaruh psikologis sangat berat seperti paranoid, persaan mati rasa secara berlebihan dan depresi, dari tenda-tenda pengungsian terdengar juga kabar bahwa berbagai macam penyakit, kurangnya pasokan makanan serta air bersih yang menimpa para pengungsi, disamping itu para pengungsipun harus mematuhi protap kesehatan untuk melawan ganasnya Virus Corona yang menyerang bangsa saat ini sehingga layaknyalah kita harus berbagi dengan mereka untuk menguatkan dan memberi semangat agar keluar dari keterpurukan.

Pemerintah dan Masyarakat yang tentunya mempunyai tanggungjawab masing-masing setidaknya menjadi motivator untuk mengembalikan mental mereka dan membuatnya kembali move on dan keluar dari peressure mental yang begitu kuat mencengkram jiwa para pengungsi.

 

 

Membangun kesadaran menghadapi Gempa ala Jepang

Jepang adalah negara kepulauan yang paling sering menghadapi bencana gempa bumi maka tidaklah berlebihan ketika negerinya para ninja ini disebut negeri sahabat gempa, berdasarkan data riset dari berbagai peneliti bahwa setiap tahunnya jepang mengalami gempa sebanyak 1.500 kali maka pemerintah dan masyarakatnya selalu belajar mengahadapi gempa.

Cara orang Jepang menghadapi gempa adalah memberikan motivasi serta penyadaran kepada warganya agar mereka tidak menyerah, insting bertahan hidup dan tekad untuk selamat harus selalu ada. Program mitigasi bencana rutin digalakkan bahkan masuk dalam kurikulum pendidikan baik formal maupun non formal, pemeliharaan lingkungan secara konsisten digawangi oleh para aktivis pemerhati lingkungan berupa penanaman mangrove dan penempatan batu-batu besar pemecah ombak di pantai untuk perlindungan awal gelombang tsunami. Selain itu sarana dan prasarana bencana itu disiapkan bersama regulasi tentang bencana gempa juga dibuat dan disesuaikan berdasarkan pengalaman bencana yang telah dihadapi sehingga ketika bumi bergetar mereka merasakan ketenangan.

Belajar dari gempa Majene-Mamuju dengan membandingkan Cara hadapi gempa ala negeri Sakura maka Pemerintah dan semua staekholder yang ada perlu membangun sinergitas dalam penanganan gempa, melibatkan para NGO dan pemerhati untuk selalu melakukan Kampanye kesiagaan bencana secara rutin serta kajian tentang pemberian izin mendirikan bangunan juga sangat ditekankan dan harus sesuai dengan standar yang berbasis tahan gempa.

 

Peran Pendamping Desa  dalam penanganan bencana

Kondisi pasca bencana gempa Majene-Mamuju peran pendamping dan para kader pemberdayaan sangat dibutuhkan dalam membangun mental dan mengantarkan masyarakat keluar dari persoalan yang dimiliki dengan segala keterbatasannya dan tidaklah berlebihan jika Petuah Lao Tse di Tiongkok 700 Tahun SM menjadi kredo dan pegangan bagi para  pendamping dan kader pemberdayaan dalam menjalankan tugas tugas pemberdayaan yang isinya kurang lebih seperti ini : pergilah pada mereka,  tinggallah Bersama Mereka, belajar dari mereka, cintailah mereka, bangun apa yang mereka punya dengan pemipin-pemimpin yang baik, ketika pekerjaan selesai dan tugas telah dituntaskan masyarakat akan berucap “ kita mampu melaksanakannya sendiri”.

Menurut UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa bahwa kegiatan pendampingan desa adalah kegiatan untuk melakukan tindakan pemberdayaan masyarakat melalui asistensi, pengorganisasian, pengarahan dan fasilitasi desa sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan selain sebagai motivator, fasilitator juga menjadi mediator antara pemerintah dengan warga masyarakat dan dapat mengakselerasi upaya pemecahan masalah sesuai dengan isu-isu sentral yang ada.

         Hal seperti diatas mengingatkan kita cerita-cerita film ataupun Drama TV masa lalu ditahun 80-an yang banyak menceritakan kehidupan masyarakat desa dengan menghadirkan sosok Dokter, Insiyur, serta mahasiswa pencinta alam yang datang untuk memberi solusi atas segala masalah yang menimpa warga dipasca bencana dengan menggambarkan peran sebagai sosok fasilitator pemberdayaan masyarakat. Bukan berarti keberadaan Pendamping Desa harus menyerupai ataupun seperti peran aktor-aktor dalam film ataupun Drama TV seperti itu namun minimal bisa menjadi referensi dalam melakukan pendampingan masyarakat apalagi di wilayah korban bencana.

Pendamping Desa mempunyai tanggungjawab dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat terkhusus pemanfaatan pengelolaan dana desa terlebih desa di wilayah bencana, aksinya sangat dinantikan untuk memfasilitasi bagaimana pengelolaan dana desa yang pro terhadap rekonstruksi pasca bencana.

Banyak hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan dana desa yang berkaitan dengan bencana anatara lain Pertama : Berdasarkan Permendagri nomor 21 Tahun 2018 tentang pengelolaan keuangan desa dalam postur APBDes terdapat nomenklatur tentang Dana Bencana selain itu dalam Permendes Nomor 11 Tahun 2019 tentang skala prioritas penggunaan dana desa tahun 2020 bahwa penggunaan dana desa untuk kebecanaan menjadi salahsatu prioritas sepertihalnya kegiatan mitigasi bencana, hal inilah yang selalu terlupakan oleh pemerintah dan masyarakat Desa dalam pemanfaatan dana Desa. Kedua Memaksimalkan Peran Bumdesa sebagai lokomotif perekonomian desa terkhusus terhadap pemenuhan pokok masyarakat pasca bencana. Ketiga pasca gempa bumi program padat karya tunai perlu dimaksimalkan sehingga partipasi masyarakat dalm proses pembangunan desa semakin terarah dan tidak asal-asalan sesuai target dan harapan.

Sebagai bagian dari aktivis Community empowerment yang lahir dari rahim gerakannya sangat berharap agar para laskar pemberdaya betul-betul memainkan perannya bukan hanya menjadi pendamping dana desa yang hanya berkutat pada data dan ranah administratif, seperti halnya saat fasilitator PNPM-MP mendapat kritikan tajam dari para penggiat desa karena cara kerjanya hanya berpedoman pada PTO (Petunjuk Teknis Operasional) dengan mengistilahkannya PTO-isme yang sangat tekstual dan verbal dengan pelatihan-pelatihannya namun betul-betul jadi pendamping yang mampu memberi solusi untuk masyarakat desa.

Mengutip pemikiran Mas Sutoro Eko dalam buku Regulasi Baru, Desa Baru yang diterbitkan oleh Kementrian Desa, PDTT,  pendampingan desa mencakup pengembangan kapasitas teknokratis dan pendidikan politik. Kapasitas teknokratis mencakup pengembangan pengetahuan dan keterampilan terhadap para pelaku di desa dalam hal pengelolaan, perencanaan, penganggaran, keuangan, administrasi, sistem informasi dan sebagainya. Pendidikan politik berorientasi pada warga aktif, kritis, peduli dan bermartabat.  Salam berdesa !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rekomendasi Berita

Back to top button