Minggu , September 20 2020
Home / Daerah / Opy M Mandra: Mencari Pemimpin Dari Tinjauan Aspek Budaya di Mandar

Opy M Mandra: Mencari Pemimpin Dari Tinjauan Aspek Budaya di Mandar

Majene – Salah seorang Tokoh Pemuda kelahiran asal Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Tabritafif M Muis Mandra, turut mengingatkan kepada masyarakat terkhusus bagi warga Sendana dan warga Majene pada umumnya, agar tetap berpegang teguh pada prinsip dan norma-norma kehidupan sosial, budaya dan agama dalam menjaring figur calon pemimpin mumpuni untuk menyelamatkan kemaslahatan bagi rakyatnya.

Terhadap kriteria dalam menjaring figur calon pemimpin ini dari aspek pendekatan kultur budaya Mandar, maka keputusan itu lahir setelah melalui pertimbangan yang matang. Pemimpin itu tidak lahir prematur, namun figur ini mesti terukur dan sudah teruji kelayakannya serta mempunyai kepribadian Akhlakul Karimah.

Figur pemimpin yang paling tepat, tentu dilihat dari aspek rekam jejak calon. Termasuk, menilai sejauh mana komitmen mereka kelak, bila diberi mandat oleh rakyat untuk menjadi pemimpin tertinggi dalam mengawal aspirasi serta komitmen mereka membangun daerah.

“Pilkada merupakan jembatan emas bagi rakyat untuk mencari figur terbaik dan punya komitmen dan kemauan untuk membangun daerahnya. Saat ini, masyarakat merindukan lahirnya sosok pemimpin yang bisa menciptakan kemandirian ekonomi untuk kesejahteraan bagi rakyatnya sendiri yang berlandaskan pada aspek kultur dan budaya kita di Mandar,” kata Opy Muis Mandra yang juga Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kabupaten Majene ketika didaulat menyampaikan pandangannya kepada masyarakat Sendana dalam acara forum silaturahmi relawan Keluarga AST-Aris yang berlangsung di bukit puncak Palipi, Sendana, Senin, 14/9.

Sebuah petuah dari kearifan Mandar dalam menjaring sosok pemimpin yang mencintai leluhurnya :

Marondong duang bongi anna matea, mau ana’u mau appou, da muannai menjari maraqdia mua’ tania to namassayanni litaq na tania tonamassayangngi paqbnua (esok hari saat ajal telah menjemputku, meski itu anak dan cucuku, janganlah ia dijadikan pemimpin jika tak mencintai tanah air dan rakyat).

Petuah tersebut adalah ucapan dari raja pertama kerajaan Balanipa, I Manyambungi yang bergelar Todilaling. Itu adalah petuah, lebih tepatnya kearifan Mandar, bagi segenap masyarakatnya untuk bersungguh-sungguh dalam memilih pemimpin.

Opy sapaan akrab Tabritafif menguraikan, tentang kata bijak Moaq mandundu mi uwai randanna Mandar, Mandar mi (kalau sudah meminum air jernihnya Mandar, maka sudah orang Mandar). Menurutnya, yang perlu difahami dari palsafah atau prinsip hidup orang Mandar ini adalah ; Bahwa kata Uwai Randang (air yang jernih) merupakan simbol dari sikap, perilaku dan tabiat orang Mandar yang malaqbiq. Jadi sejatinya, orang asing/pendatang yang mau jadi orang Mandar, seharusnya memahami dan mengamalkan sikap dan perilaku orang Mandar (yang disimbolkan dalam kata Mandundu/meminum) baru dia bisa dikatakan orang Mandar. Kalau tidak, seumur hidup pun tinggal di Mandar, dia tidak akan dianggap sebagai orang Mandar. Bahkan, orang Mandar asli pun kalau tidak menggambarkan sikap, perilaku dan tabiat orang Mandar, maka dia digelar Mandar Laosala (orang Mandar yang tidak memahami ke-Mandara nya).

“Orang Mandar itu mampu menjaga sikap saling menghormati, menghargai dan saling menyayangi. Sipattau, siakayyangang siri’ anna sisamboiyang siri’ (saling menghormati sesama manusia, saling menjunjung tinggi, dan saling menjaga serta tidak mengumbar aib sesama. Harus pula dipahami bahwa masyarakat Sendana dahulu kala, selalu bersikap rendah hati dan menghargai orang yang lebih tua,” ungkap Tabritafif yang juga putra dari almarhum budayawan Mandar, Abdul Muis Mandra.

Tokoh Pemuda Mandar sekaligus Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kabupaten Majene, Muh.Tabritafif Muis Mandra

Opy menguraikan, dalam konteks politik guna mencari pemimpin dari calon bupati dan wakil bupati Majene, maka kami tentu ingin mengingatkan juga agar momentum Pilkada itu dimanfaatkan dengan baik dengan cara ikut menyalurkan suaranya kepada sosok figur yang diyakini mampu membawa daerah Majene lebih maju, berbudaya dan bisa bersaing dengan daerah lainnya.

“Kita sebagai masyarakat yang dibesarkan di lingkungan keluarga di tanah Mandar, maka sebaiknya berilah kesempatan kepada saudara kita yang jauh lebih mumpuni, dari pada harus memberikan dukunganmu terhadap figur orang asing (bukan orang Mandar) untuk menjadi pemimpin di daerah kita. Kita bisa mendukung figur orang asing, apabila sama sekali kita tidak memiliki figur calon pemimpin alternatif,…..!!! Tetapi saya rasa kita punya stok banyak figur calon pemimpin mumpuni. Maka dari itu, momen Pilkada Majene tahun ini agar memberikan kesempatan penuh bagi masyarakat pribumi yang mau mengabdikan dirinya atas nama rakyat. Paling tidak, utamakan atau dukunglah figur-figur dari golongan keluarga sendiri atau teman kita yang senafas dengan kultur orang Mandar….Hanya orang yang gagal berpikir positif lantas rela memberikan dukungan kepada orang yang sama sekali ternyata kita belum mengenal jejak rekam calon. Lebih konyol lagi bila suara kita hanya ditebus dengan uang hasil suap politik dari calon asal luar daerah atau pendatang yang berebut keuntungan dari sebuah pertarungan politik berlabel pilkada tahun ini. ,” Urainya yang disambut aplaus dari warga Sendana.

Karena itu kata dia, kabarkan kepada seluruh keluarga kita, sahabat kita, tetangga kita agar mendukung pencalonan putra terbaik kita yakni pasangan Andi Sukri Tammalele dan Arismunandar Kalma pada proses pemungutan suara pada 9 Desember 2020.

KEARIFAN LOKAL BUDAYA MANDAR

Kearifan Mandar lainnya, terkenal sebuah konsep kepemimpinan yang lazim disebut sebagai A Malaqbiang atau Malaqbiq. Dalam terjemahan Indonesia, kata ‘sempurna’ atau ‘kesempurnaan’ barangkali dapat mendekati kata Malaqbiq itu. Hal ini sesuai yang kami kutip dari tulisan Pegiat Seni di Komunitas Rumah Mandar Yogyakarta.

Kepemimpinan yang malaqbiq, dengan demikian, adalah kepemimpinan yang dimulai dari integritas personal seorang pemimpin. Ia memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup rakyatnya. Perpaduan dari dua sifat tersebut itulah yang disebut sebagai pemimpin yang Malaqbiq. ***

Penulis Acho Antara
Produksi by media Sulbar.com

About admin

Awalnya saya tak pernah berpikir untuk menjadi jurnalis. Pada tahun 2006, saya dipaksa untuk menjadi pewarta oleh om MP yang saat itu bekerja di koran harian Mercusuar, Palu, Sulteng. Sejak itu, meski harus tertatih-tatih, akhirnya profesi ini saya geluti dengan serius untuk menjadi jurnalis yang profesional. Tepat tahun 2008, saya milih hijrah dari Palu ke Mamuju untuk mengembankan koran Suara Sulbar. Namun usianya hanya setahun sehingga saat itu ikut memberanikan diri melamar di perusahaan BUMN LKBN Antara Biro Sulselbar. Bekerja di kantor berita negara ini cukup lama. Bahkan masyarakat Sulbar lebih akrab mengenal nama saya dengan sapaan Acho Antara alias A. Acho Ahmad AH. Selepas bekerja di LKBN Antara pada tahun 2017, saya pun mendirikan media online Mediasulbar. Com dibaeah naingan PT Media Sulawesi Barat, sebagai jembatan untuk menyalurkan informasi, edukasi bagi masyarakat Sulbar. Kami bertekad kuat, kelak mediasulbar. Com jadi referensi oleh pembaca berita guna kemajuan daerah di Tanah Malaqbi Mandar.. Wassalam..
error: Content is protected !!