Kamis , Juli 2 2020
Home / Politik & Pemerintahan / PILKADA, POLLING DAN SURVEY

PILKADA, POLLING DAN SURVEY

PILKADA, POLLING DAN SURVEY

Oleh : Surakhmat Haqqani

Melalui whatsapp, saya menerima kiriman pesan aplikasi polling dari seorang kawan. Aplikasi polling tentang dukungan kandidat pilkada Majene.

Sebagai sekedar sebuah media untuk meramaikan wacana pilkada, polling dengan aplikasi begini tidak masalah.

Tetapi kalau untuk menjadi rujukan dalam menakar peluang kandidat, aplikasi polling seperti ini tidak akan memenuhi kriteria validitas dan obyektifitas.

Mengapa? Karena aplikasi polling seperti ini populasinya tidak terbatas. Seseorang bisa mengklik kandidat bupati/wakil bupati Majene yang diingininya, meski ia warga diluar Majene. Seseorang yang memiliki lebih dari satu perangkat seluler atau internet bisa mengklik pilihannya di semua perangkat tersebut. Berkali-kali.

Bila ingin menakar peluang ataupun elektabilitas kandidat pilkada secara obyektif, ilmiah dan valid sebaiknya memakai jasa lembaga survey resmi yang kredibel. Seperti misalnya; LSI, JSI, Charta Politika, Pollmark dan sejenisnya.

Bagi Kandidat politik, tim sukses, tim pemenangan dan tim pendukung. Sebaiknya menakar progres gerakan pemenangannya memakai jasa lembaga survey yang kredibel. Jangan mengandalkan aplikasi polling seperti ini.

Jangan menghabiskan energi dan waktu untuk adu kuat di aplikasi polling seperti ini. Ukur elektabilitas melalui lembaga survey lalu gerak sistematis di lapangan. Biasanya lembaga survey memberikan panduan rekomendasi langkah dan metode gerak yang bisa ditempuh di lapangan.

Satu hal yang pasti, seorang kandidat yang berposisi petahana harus mendapatkan angka elektabilitas diatas 70%. Karena seorang petahana idealnya sangat disukai, dicintai. Ia akan sangat diharapkan terpilih di jelang Pilkada daerahnya. Empat tahun memerintah ia sudah sangat dikenal rakyatnya, sisa tingkat kepuasan dan keberhasilan kinerja menurut rakyatnya yang harus diukur. Jika dibawah 70%, petahana akan sangat rawan dan kritis posisi peluangnya untuk terpilih kembali.

Di ruang-ruang kuliah, saat mengajarkan tentang Politik Lokal dan Otonomi Daerah kepada mahasiswa saya sering membahas tentang perlunya Survey dalam kontestasi Pilkada. Dalam konteks ilmu survey, tingkat elektabilitas petahana cenderung stagnan, tetap atau malah turun. Amat riskan seorang petahana maju kembali berkompetisi jika angka elektabilitasnya di waktu 8 bulan hingga 12 bulan sebelum hari H berada di angka di bawah 50%. Itu akan membuat penantangnya punya peluang menang lebih besar.

Wallahualam bissawab..

About admin

Awalnya saya tak pernah berpikir untuk menjadi jurnalis. Pada tahun 2006, saya dipaksa untuk menjadi pewarta oleh om MP yang saat itu bekerja di koran harian Mercusuar, Palu, Sulteng. Sejak itu, meski harus tertatih-tatih, akhirnya profesi ini saya geluti dengan serius untuk menjadi jurnalis yang profesional. Tepat tahun 2008, saya milih hijrah dari Palu ke Mamuju untuk mengembankan koran Suara Sulbar. Namun usianya hanya setahun sehingga saat itu ikut memberanikan diri melamar di perusahaan BUMN LKBN Antara Biro Sulselbar. Bekerja di kantor berita negara ini cukup lama. Bahkan masyarakat Sulbar lebih akrab mengenal nama saya dengan sapaan Acho Antara alias A. Acho Ahmad AH. Selepas bekerja di LKBN Antara pada tahun 2017, saya pun mendirikan media online Mediasulbar. Com dibaeah naingan PT Media Sulawesi Barat, sebagai jembatan untuk menyalurkan informasi, edukasi bagi masyarakat Sulbar. Kami bertekad kuat, kelak mediasulbar. Com jadi referensi oleh pembaca berita guna kemajuan daerah di Tanah Malaqbi Mandar.. Wassalam..
error: Content is protected !!