Rontoknya Nilai Sebuah Karya

Oleh

Nur Salim Ismail

 

Pergeseran era industri menuju era digital tak melulu mampu menggeser segala hal agar turut maju. Ada saja dimensi tertentu yang entah terlupa, atau tertolak oleh roda kecepatan zaman.

 

Sebuah pertanyaan yang terasa mubazir dikemukakan; masih adakah informasi yang tak tergarap oleh teknologi digital hari Ini?

 

Sebab dengan bermodal smartphone, gugusan informasi itu telah hadir dalam genggaman orang per orang. Bagi Habermas, inilah fase kemabukan zaman, ditandai dengan ekstase informasi.

 

Belum cukup kita menikmati sendawa, muncul lagi deretan kabar lainnya. Hasilnya, kita mulai mual dengan aneka rupa sajian itu. Bahkan, tanpa rasa mual sekalipun, kita telah cukup merasakan obesitas, penghalau gerak bagi tubuh.

 

Hadirnya media online juga tak ubahnya melengkapi rasa kenyang itu. Padahal, di lain sisi, gempuran kabar palsu juga tak kalah menyesakkan dada. Garis pembatas antara kebenaran dan berita bohong kian tipis, samar-samar dan akhirnya mewabah menjadi bumbu prahara kehidupan.

 

Hasrat merebut kecepatan acapkali mengabaikan dimensi penyajian beralas fakta. Lebih miris jika sumber berita tidak benar-benar primer. Atau sekadar mengandalkan perebutan panggung sensasional. Lebih ironis lagi jika irisannya dirusak oleh narasi kepentingan.

 

Jika telah begitu, rontoklah nilai sebuah karya. Rumusan Bill Kovach dalam Elemen Jurnalisme yang disodorkan, selain sebagai panduan, juga berguna sebagai pengingat. Bahwa sebuah karya mesti berdiri teguh pada kebenaran. Bukan pada yang dibenarkan. Tanpa peneguhan batin pada kebenaran, nilai sebuah karya hanya akan membusuk dan merusak akal sehat. Sehingga mesti disingkirkan dari panggung peradaban.

 

Ini menjadi penegasan, bahwa makhluk bernama Jurnalis juga punya kadar kebatinan yang terus mendambakan refleksi mendalam. Agar tak sekadar merdeka dalam berkarya. Namun juga tahu hakekat dari apa yang disajikan.

 

Tak banyak yang benar-benar mendalami kekuatan narasi. Komponen pegiat tulis menulislah yang lebih mafhum betapa dahsyatnya jika narasi dimainkan massif. Jika peluru mampu membunuh satu nyawa seketika, lalu lenyap selamanya. Sementara narasi, punya kekuatan mencuci pikiran manusia. Di saat yang sama juga dapat mengubah haluan kehidupan.

 

Maka dalam konteks hakekat sebuah karya, sepatutnya kita tak lelah bertanya, untuk siapa narasi itu digerakkan? Untuk menciptakan kehidupan baru? Untuk menggembirkan hasrat seorang Tuan? Untuk melahirkan Tuan Baru? Untuk melanggengkan kezaliman? Atau anda juga menjadi bagian dari pelecut prahara kehidupan?

 

Manakarra, 3 Desember 2017

Rekomendasi Berita

Back to top button