Sisi Lain Perjalanan ke Panggalo, Anomali di Lembah Kenangan, Tersisa di Puncak Harapan.

Oleh : Budibento ( part 1 )

Tak pernah menyangka sebelumnya, jika tiga orang di antara kami ber lima, akan mampu Tiba ke Dusun Toe Toe, Desa Panggalo, Kec. Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, untuk melakukan Pertemuan peningkatan Kemampuan Keluarga ( P2K2 ) KPM PKH.

Diawal cerita Harapan begitu indah, di akhir cerita tak seperti kenyataan. Jalur jalan yang telah kami bayangkan sejak berangkat, seketika sirna di saat melewati Dusun Batu sure, menuju Dusun Ratte Padang Desa Awo,.

Sulaiman yang pecinta ROSSI, hanya bisa pasrah ketika motornya terbalik dijJalur tanjakan dan hampir menimpanya. Beruntung masih punya semangat pengabdian yang tak ternilai.

Dari atas motornya, Herman yang original pedalaman Ulumanda dengan mudahnya meliuk santai melewati kerikil lepas dengan semen cor. Namun tak terasa, karena ada korcam di belakang nya memberi semangat.

Di penghujung perkampungan, ujian kekuatan pun menjadi nomor satu, di kala kami melewati jalan menurun dan berbatu.

Siang itu, kami berlima yang tersisa dibelakang, harus menerima resiko jalan kaki, sebab motor kami menyerah sebelum jembatan gantung.

Harapan kami, hanya tertuju kepada motor ojek sang joki yang bersedia menanti kami di sebuah gubuk padi, milik warga.

Bagi aku pribadi, pilihannya, hanya ada 4 waktu itu, mundur atau bertahan, lanjut atau balik. Hanya bekal komitmen dan jiwa pangabdi menjadi penghibur hati dikala keringat membasahi logo Kemensos.

Anomali di Lembah Harapan, benar benar nyata, bahwa apa yang kami harapkan, berbanding terbalik dengan kenyataan sesungguhnya.

Cerita indah para wakil rakyat dan para pejabat, hanya pemanis dikala musim berganti. Jalur alternatif yang diharapkan satu satunya, ibarat dongeng sebelum tidur dan keniscayaan, oleh karena jalur jalan ke desa Panggalo masih tercatat dalam wilayah administratif Kec. Tammeroddo Sendana. Hal itu dikuatkan dengan pembuktian batas alam di lokasi jembatan gantung.

Mungkin inilah dikatakan sebagai Anomali kebijakan. Akses jalan merupakan kendala utama bagi Warga Ulumanda melakukan aktifitas keseharian. di butuhkan komitmen kuat dan jiwa membangun antara dua kecamatan tetangga untuk memuluskan jalan penghubung antara 2 desa yang bertetangga ini.

keinginan tak semudah yang dibayangkan, walau merintih dalam kelelahan.**

Waktu di layar android menunjukkan angka 14.37. kami pun melanjutkan perjalanan menuruni bebatuan sepanjang jalan.

Perjalanan kami berlima, kala itu benar benar sangat menantang dan melelahkan. Sepanjang jalan yang kami lewati, adalah kubangan air dan batu cadas. Tak nampak kemajuan, Jauh tertinggal dan hiruk pikuk modernisasi. Tak sepotong pun aspal, kami lihat atau pun drainase. Yang ada hanya jalur binatang dan jalur air hujan yang sering menyapu badan jalan.

Hari menjelang sore, kami pun tiba di jembatan gantung Peledoang, sambil sejenak melepas dahaga dari bekal air yang ada.

Diantara tumpukan batu, kami pun duduk dengan rebah, mengusap keringat, sambil mengatur irama nafas yang masih tersisa.

Dari atas jembatan gantung, kami mencoba melangkah bergantian, karena kondisi papan yang dilalui sudah mulai rapuh.

Kami berlima sangat menikmati pemandangan ke bawah sungai panggalo.

Dari balik tali jembatan, terlintas suatu harapan jika suatu hari nanti warga panggalo, akan menikmati Listrik dari sumber Tenaga Mikro Hidro. Dengan kondisi Air yang melimpah dan ribuan kubik itu, bukan mustahil desa Panggalo menjadi penyangga listrik daerah disekitarnya.

Hamparan hutan yang masih terlihat asli adalah sumber masa depan bagi generasi disana karena belum ada aktifitas ilegal logging.

Melihat Syamsudi sedang asyik berfoto selvi, aku pun nimbrung disela nya sambil bercanda dengan Herman, yang sudah di tengah Jembatan sedang fokus memegang tangan tangan sang koorcam. Hingga akhirnya kami tiba dengan selamat di ujung jembatan ke arah Dusun Peledoang.

Sore menjelang malam, kami pun, diskusi sejenak dengan para joki ojek sebelum lanjut. Satu diantara mereka adalah joki handal yang membawa bang Tasrif selaku mentor literasi.

Sejumlah pertanyaan kepada sang joki, hanya mampu dijawab dengan senyuman dan kelakar. Karena mereka tahu bahwa panggalo, bukanlah hidup kami.

Karena hari sudah mulai gelap, joki ojek yang aku tumpangi dengan joki bang Tasrif hanya bisa mengucapkan permisi untuk duluan ke rumah sosial KAT, sebab mereka letih dikumur waktu. Sementara Herman, Simbar, Syamsudi dan Sulaiman, memilih untuk berjalan kaki, karena di anggap lebih nyaman.

Mereka berempat, rela menembus derasnya hujan dalam gelapnya malam, demi suatu janji pada ibu Pertiwi, bahwa esok adalah harapan dan impian.

Dalam “on the way’ Ke rumah KAT, aku sangat merasakan betapa pentingnya suatu kemerdekaan infrastruktur di wilayah ini.

Dari atas motor, berbagai jenis batu dan lumpur menyambut kedatangan kami.

Di sepanjang jalan, aku merasakan seperti di dalam ruang Botol musik dengan irama musik DJ mengoyak isi perut menembus hutan panggalo, hingga tiba dengan selamat di dusun Puccea.***(MS03/C)

Rekomendasi Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button