Kamis , Oktober 29 2020
Home / Daerah / Surakhmat: Begini Kronologi Terjadinya Pemecatan Satpam RS

Surakhmat: Begini Kronologi Terjadinya Pemecatan Satpam RS

Mediasulbar.com- Hari itu, rabu 15 April 2020. Saya dijemput beberapa sahabat saya; Arismunandar Kalma, Bayu Aditya MB dan Muh Fitra Armin pada sore hari.

Berempat kami telah berencana menbesuk istri mantan bupati Majene pak Haji Darwis. Beliau sedang dirawat di RSUD Majene karena gangguan kesehatan.

Pukul 16.30 kami tiba di halaman parkir RSUD Majene yang sepi. Saking sepinya, tak ada kendaraan roda empat yang terparkir kecuali mobil kami. Hanya ada beberapa sepeda motor saja. Mungkin karena hari sudah sore dan faktor situasi pandemi covid 19.

Digerbang masuk, para Satpam dengan sigap mencegat saat tiba di depan pintu. Menanyakan maksud dan tujuan. Kami sampaikan secara santun dan beradab sebagai warga negara yang baik, permohonan ijin untuk membesuk seorang pasien. Kami buka masker sejenak dari wajah kami agar dikenali sebagai support pertimbangan keamanan RSUD dari tamu tak dikenal. Sama sekali tidak ada gaya arogan yang kami tampakkan, karena kami warga biasa yang juga memang selalu santun kepada orang. Apalagi sahabat kami Arismunandar Kalma, tak seorang pun di Majene yang mengenal pribadi beliau akan menyangkal bahwa ia orang santun, tawadhu dan rendah hati.

Dengan lugas, Satpam menerangkan bahwa saat ini kunjungan dibatasi untuk masuk kamar pasien karena wabah covid. Kami respon dengan positif, dengan janji bahwa cuma 1 orang diantara kami yang akan masuk kamar pasien. Yang lainnya hanya membantu membawakan beberapa bungkus hantaran oleh-oleh buat pasien. Kami janji paling lama 15 menit kami akan segera pulang.

Dengan ijin dan perkenan Satpam, kami masuk. Menuju gedung VIP Anggrek tempat Nyonya Darwis di rawat. Disana kami disambut bu Nur Afifah Darwis putri beliau. Kami persilahkan Arismunandar masuk kamar pasien, sedangkan saya, Bayu dan Fitra menanti di lobby..

Kurang lebih 15 menit berlalu. Aris keluar kamar pasien dan kami berempat beranjak meninggalkan gedung VIP Anggrek. Bu Afifah mengantar hingga pintu VIP Anggrek.

Saat keluar dari pintu gedung VIP Anggrek, dari selasar utama RSUD kelihatan bu bupati bersama seorang wanita pendamping yang bukan istri salahsatu FORKOPIMDA datang berjalan ke gedung VIP Anggrek.

Sekilas saya menangkap, kekagetan dari raut dan gestur beliau saat melihat kami. Saat berpapasan, kami berempat menyingkap masker sejenak tersenyum dan menyapa hormat bu bupati. Bu bupati hanya mengangkat jempol namun wajahnya dipalingkan ke arah lain tak memandang sedikitpun pada kami.

Saat pulang sebelum sampai pintu keluar para satpam datang tergopoh-gopoh menghampiri kami. Bertanya siapa 2 orang ibu tadi. Kami balas tanya kenapa dan ada apa dengan ibu tadi.

Satpam tersebut pun bercerita bahwa tadi 2 ibu itu datang ke gerbang pos, kayaknya juga hendak masuk membesuk. Tapi ibu-ibu itu langsung saja masuk tanpa permisi. Sehingga satpam mencegatnya. Saat dicegat, ibu yang satunya (ibu bupati maksudnya-red) malah menyuruh rekannya mengeluarkan handphone dan memotret para satpam tersebut. Setelah memotret, kedua ibu itu tetap berlalu bergegas masuk ke dalam menuju gedung VIP.

Seorang Satpam tetap berusaha mengejar dari belakang. Namun sebelum berhasil menyusul kedua ibu itu, mereka berpapasan dengan kami yang sudah hendak keluar. Maka Satpam itu pun berhenti bertanya tentang ibu itu.

Alangkah kagetnya Satpam tersebut, saat kami beritahu bahwa ibu tadi adalah ibu bupati. Mereka sama sekali tidak tahu dan tidak mengenali ibu bupati. Apalagi beliau tidak memperkenalkan dirinya dan tidak menyingkap sejenak maskernya. “Andaipun beliau menyingkap maskernya, kami pun tetap tidak akan mengenal siapa dia karena memang tidak pernah ketemu atau melihatnya,” ungkap satpam itu..

Sebelum berlalu pulang, kami sarankan para Satpam itu meminta maaf jika ibu bupati dan rekannya keluar nanti. Kami khawatir para Satpam itu akan mendapat hal yang tak diinginkan.

Malamnya, sekitar pukul 23.00 saya mendapat kabar. Ketiga Satpam tersebut dipecat melalui telepon.. (Srm)

About admin

Awalnya saya tak pernah berpikir untuk menjadi jurnalis. Pada tahun 2006, saya dipaksa untuk menjadi pewarta oleh om MP yang saat itu bekerja di koran harian Mercusuar, Palu, Sulteng. Sejak itu, meski harus tertatih-tatih, akhirnya profesi ini saya geluti dengan serius untuk menjadi jurnalis yang profesional. Tepat tahun 2008, saya milih hijrah dari Palu ke Mamuju untuk mengembankan koran Suara Sulbar. Namun usianya hanya setahun sehingga saat itu ikut memberanikan diri melamar di perusahaan BUMN LKBN Antara Biro Sulselbar. Bekerja di kantor berita negara ini cukup lama. Bahkan masyarakat Sulbar lebih akrab mengenal nama saya dengan sapaan Acho Antara alias A. Acho Ahmad AH. Selepas bekerja di LKBN Antara pada tahun 2017, saya pun mendirikan media online Mediasulbar. Com dibaeah naingan PT Media Sulawesi Barat, sebagai jembatan untuk menyalurkan informasi, edukasi bagi masyarakat Sulbar. Kami bertekad kuat, kelak mediasulbar. Com jadi referensi oleh pembaca berita guna kemajuan daerah di Tanah Malaqbi Mandar.. Wassalam..
error: Content is protected !!