Beranda Pendidikan PROSPEK BUMA BAGI KADER GP ANSOR DI SULAWESI BARAT

PROSPEK BUMA BAGI KADER GP ANSOR DI SULAWESI BARAT

7

Liputan khusus : Mr.budi
Kader GP. Ansor majene

Kemandirian ekonomi merupakan salah satu tantangan penting bagi organisasi kepemudaan, termasuk Gerakan Pemuda Ansor. Kader Ansor tidak hanya dituntut memiliki kekuatan dalam bidang keagamaan, sosial, kebangsaan, dan kepemimpinan, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Dalam konteks tersebut, kehadiran Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) memiliki arti strategis. BUMA dibentuk sebagai instrumen penguatan ekonomi GP Ansor melalui pengembangan unit usaha, kemitraan strategis, pemberdayaan kader, serta penciptaan ekosistem bisnis yang lebih profesional. GP Ansor secara resmi meluncurkan BUMA pada April 2025 sebagai holding company yang mengonsolidasikan berbagai unit bisnis strategis.

Bagi kader GP Ansor di Kabupaten Majene, BUMA dapat dipandang sebagai ruang baru untuk mengubah potensi kader dan potensi daerah menjadi kekuatan ekonomi yang produktif. Hal ini tentu membutuhkan perencanaan yang matang, pemetaan potensi daerah, peningkatan kapasitas kader, serta tata kelola usaha yang profesional.

1. BUMA sebagai Instrumen Kemandirian Ekonomi Kader

BUMA pada dasarnya tidak hanya dimaksudkan sebagai badan usaha yang mengejar keuntungan. Dalam konsep yang dikembangkan GP Ansor, BUMA juga diarahkan untuk menjadi sarana pemberdayaan ekonomi kader dan masyarakat.

Situs resmi BUMA menjelaskan bahwa BUMA bertujuan membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan literasi dan inklusi bisnis kader, mendorong inovasi, serta memperkuat daya saing usaha.

Dengan demikian, kader Ansor di Majene tidak harus melihat BUMA semata-mata sebagai tempat mencari pekerjaan, tetapi sebagai sarana untuk :

membangun usaha;
mengembangkan UMKM kader;
memperluas jaringan pemasaran;
mendapatkan peningkatan kapasitas bisnis;
membangun kemitraan;
mengembangkan potensi ekonomi lokal; dan
menciptakan lapangan kerja.

2. Mengapa BUMA Memiliki Prospek di Kabupaten Majene?

Kabupaten Majene memiliki karakter ekonomi yang memungkinkan dikembangkan melalui pendekatan ekonomi berbasis kader dan komunitas. Potensi sektor perdagangan, UMKM, pertanian, perikanan, jasa, ekonomi kreatif, serta usaha yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dapat menjadi ruang untuk dikaji oleh BUMA.

Namun, potensi tersebut tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi. Diperlukan organisasi, modal, kemampuan manajemen, pemasaran, teknologi, dan jaringan usaha.

Di sinilah BUMA memiliki prospek strategis.

Jika kader Ansor Majene mampu membangun jaringan usaha secara terorganisasi, maka usaha-usaha kecil yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri dapat diarahkan menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar.

*Prospek tepung Loka pere dan pengembangan gula aren sangat menjanjikan*

Prospek dan pengembangan tepung dari loka pere sudah mulai dikembangkan di desa adolang dhua. Menurut informasi Burhanuddin selaku kepala desa adolang dhua bahwa bisnis tepung loka pere sudah lama di produksi oleh warga setempat, ibu2 pkk dan klompok rentan. Hal itu sangat cocok jika GP. ansor majene bisa menjadi salah satu produk BUMA PC. Ansor majene..

Selain itu, juga PC Ansor majene juga akan mencoba mengembangkan program penanaman pohon aren yang juga dapat menjadi salah satu bagian Ansor BUMA yang menjanjikan bagi kader untuk bisa dikelolah.

Selain itu, GP. Ansor majene terus membangun komunikasi dengan pihak terkait agar semua program bisa di kolaborasi dalam setiap kegiatan.

Ketua PC Ansor majene Andi ahmad zahri saat ini tanpa henti untuk terus membangun komunikasi dan jaringan agar penguatan ekonomi kader bisa berdampak untuk keberlanjutan dan kesuksesan program PC Ansor majene menuju Ansor masa depan dan Ansor berdampak.

Generasi muda Ansor di Majene juga menghadapi perubahan besar dalam pola perdagangan.

Masyarakat semakin terbiasa menggunakan:

marketplace;
media sosial;
pembayaran digital;
pemasaran melalui video;
desain digital;
layanan berbasis aplikasi;
serta berbagai bentuk perdagangan daring.

BUMA sendiri menempatkan teknologi informasi, digital, multimedia, dan kreatif sebagai salah satu sektor strategis.

Karena itu, kader Ansor Majene perlu didorong menjadi kader yang melek digital sekaligus produktif secara ekonomi.

Contohnya adalah membentuk:

Tim Digital BUMA Majene

yang dapat membantu UMKM kader dalam:

membuat identitas merek;
fotografi produk;
desain kemasan;
promosi media sosial;
pemasaran digital;
pembuatan katalog;
dan pengelolaan toko daring.

Prospek BUMA di Majene juga dapat diperkuat melalui kemitraan dengan berbagai pihak.

Pendekatan ini sejalan dengan model pentahelix, yaitu membangun kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media.

Dalam konteks Majene, kemungkinan kemitraan dapat dikaji dengan:

Pemerintah Kabupaten Majene;
pemerintah desa;
perguruan tinggi;
pelaku UMKM;
perbankan;
perusahaan swasta;
koperasi;
komunitas pemuda;
pesantren;
dan jaringan usaha lainnya.

Sebagai bagian dari ekosistem Nahdlatul Ulama, pesantren juga dapat menjadi salah satu ruang pemberdayaan ekonomi.

Kerja sama dapat diarahkan pada pengembangan:

koperasi pesantren;
toko kebutuhan santri;
produk makanan;
percetakan;
pakaian dan atribut;
pertanian;
peternakan;
layanan digital;
serta berbagai produk kreatif.

Kader Ansor dapat menjadi penghubung antara pesantren, pasar, dan jaringan bisnis.

Dengan demikian, hubungan antara Ansor dan pesantren tidak hanya berlangsung dalam aspek sosial-keagamaan, tetapi juga dapat berkembang pada aspek pemberdayaan ekonomi.**