Kamis , Juli 2 2020
Home / Hukum / Tetap Rusak Meski Kapal Feri Mini Dua Kali Dianggarkan

Tetap Rusak Meski Kapal Feri Mini Dua Kali Dianggarkan

Kapal Ferry mini yang sudah dua kali dianggarkan kini sudah rusak di perairan pulau di kecamatan Balakbalakang.. Foto: ist

Mamuju – Ketua Badan Advokasi Investigasi Nasional Hak Asazi Manusia Republik Indonesia (Bain Ham RI) Provinsi Sulawesi Barat, segera lakukan investigasi kasus pengadaan Kapal Feri Mini yang ditengarai terjadi tindak pidana korupsi.

“Kasus kapal fery mini menggelinding sejak tahun 2017 , namun hingga kini kasus ini terdiam dan seolah olah dalam kondisi baik baik saja. Kami selaku penggiat sosial ikut prihatin lantaran armada transportasi yang diperuntukkan bagi masyarakat kepulauan tak lagi beroperasi,” kata ketua Bain Ham Sulbar, Abdul Rahman di Mamuju, Sabtu, 6/6.

Rahman menyebutkan, armada kapal fery mini ini menelan anggaran yang cukup besar. Namun kualitas kapal tidak memadai sehingga mudah rusak. “Nyaris asas manfaat nya tidak sesuai harapan masyarakat pulau di Mamuju. Terkesan hanya buang buang anggaran karena nyatanya kapal yang baru beroperasi itu kini mengalami kerusakan cukup parah. Makanya, kami akan menelisik untuk kemudian kita dorong ke penegak hukum,” terangnya.

Informasi tang didapatkan kata dia, bantuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju berupa kapal feri mini untuk melayani transportasi dari dan menuju Mamuju, kini terparkir tak berdaya di Pulau Ambo Kecamatan Balabalakang akibat lambung kapal mengalami kebocoran.

Kapal yang dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APDB) Tahun 2017, bahkan telah dua kali mendapatkan kucuran anggaran, namun tetap saja rusak.

Anehnya lagi, kasus pengadaan kapal Ferry mini ini seolah dan terkesan menutup mata dan memilih membisu oleh pihak aparat penegak hukum yang ada di daerah. Tapi semoga ini hanya asumsi saja dan pihak kepolisian dan kejaksaan menyikapi serius dari kasus ini tanpa tebang pilih.**

Penulis Acho Antara

About admin

Awalnya saya tak pernah berpikir untuk menjadi jurnalis. Pada tahun 2006, saya dipaksa untuk menjadi pewarta oleh om MP yang saat itu bekerja di koran harian Mercusuar, Palu, Sulteng. Sejak itu, meski harus tertatih-tatih, akhirnya profesi ini saya geluti dengan serius untuk menjadi jurnalis yang profesional. Tepat tahun 2008, saya milih hijrah dari Palu ke Mamuju untuk mengembankan koran Suara Sulbar. Namun usianya hanya setahun sehingga saat itu ikut memberanikan diri melamar di perusahaan BUMN LKBN Antara Biro Sulselbar. Bekerja di kantor berita negara ini cukup lama. Bahkan masyarakat Sulbar lebih akrab mengenal nama saya dengan sapaan Acho Antara alias A. Acho Ahmad AH. Selepas bekerja di LKBN Antara pada tahun 2017, saya pun mendirikan media online Mediasulbar. Com dibaeah naingan PT Media Sulawesi Barat, sebagai jembatan untuk menyalurkan informasi, edukasi bagi masyarakat Sulbar. Kami bertekad kuat, kelak mediasulbar. Com jadi referensi oleh pembaca berita guna kemajuan daerah di Tanah Malaqbi Mandar.. Wassalam..
error: Content is protected !!