oleh

Dapur Kak Rose, Pesan Antar Nasu Palekko Kota Majene

Majene,Mediasulbar.com– Di Sulawesi, ada aneka kuliner khas yang cukup populer, yaitu nasu palekko (palakko) . Menu masakan khas nasu palekko yang berbahan dasar itik/ayam ini terkenal di kalangan masyarakat suku Bugis dan Mandar.

Berawal dari situ, Kak Rose, sapaan akarabnya memulai bisnis pesan antar masakan Palekko. Dari hobby memasak dan pengalaman selama menjadi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alaudsin Makassar yang berkecimpung di dunia Usaha Mandiri Kampus, ia berinisiatif untuk menjadi pelaku usaha di Kotanya, Majene.

“Saya melihat perkembangan IT saat ini, sangat memungkinkan untuk memulai usaha Kuliner rumahan  dengan memanfaatkan media sosial untuk pemasaran. Apalagi di Kota Majene ini sudah ada layanan antar barang dalam kota, ” terang Rose Alumni Cumlaude Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Selasa (11/01/22).

Meski pedas dan bisa membuat telinga memerah karena menggunakan cabai yang cukup banyak, masyarakat setempat tetap menggandrunginya. Nasu palekko biasanya disantap bersama burasa atau ketupat sebagai pengganti nasi. Selain itu, biasanya disiapkan pula bajabu yang terbuat dari kelapa parut sangrai.

Nasu palekko merupakan daging bebek dan ayam yang dipotong-potong kecil. Bisa disebut juga dengan itik/ayam cincang.

Yang akan dijadikan nasu palekko bisa jenis itik alabio, ayam kampung dan juga itik manila yang ukurannya lebih besar dibandingkan itik alabio atau itik biasa. Nasu palekko merupakan istilah dari bahasa Bugis yang terdiri dari dua kata, yakni nasu artinya masakan dan palekko artinya panci tanah liat.

Namun, seiring perkembangan perlengkapan rumah tangga, menu itik/ayam pedas ini tidak lagi dimasak dengan menggunakan panci atau tungku berbahan tanah liat, tetapi menggunakan panci aluminium ataupun stainless. Untuk proses pembuatannya, daging bebek/ayam yang sudah disembelih dan dikuliti, kemudian dibakar di atas perapian hingga semua bulu-bulu halusnya hilang.

Setelah dipotong-potong kecil dan dicuci bersih, potongan daging itik itu diberikan asam jawa atau jeruk nipis untuk menghilangkan bau khas itik. Bumbunya terdiri atas cabai, bawang merah, bawang putih, jahe, sereh, garam, dan asam dari irisan mangga yang sudah dikeringkan.

Setelah bumbu digiling halus, lalu dicampur dengan potongan daging itik, kemudian dimasukkan dalam penggorengan atau wajan. Selanjutnya, diaduk hingga matang untuk disajikan.

Menu ini tanpa menggunakan minyak. Hanya dimasak bersama kulit itik/ayam itu sendiri yang mengeluarkan lemak hingga menjadi minyak. Setelah daging itik/ayam ini empuk dengan proses pemasakan sekitar 1-2 jam, maka sudah siap untuk disajikan dan disantap ramai-ramai maupun sendiri.

Jika tidak sempat memasak sendiri, warga bisa membelinya di toko maupun secara daring melaui “Dapur Kak Rose”.

“Harga per porsi cukup terjangkau, mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu untuk mendapatkan beberapa potong ayam /itik nasu palekko,” ujar Kak Rose.(ms08/B)

Penulis: Ms08

Editor : Shaleh Muhammad Sr

Produksi Mediasulbar.com

 

 

Komentar