
Kulit pisang yang biasa kita buang ternyata sedang diteliti sebagai bahan obat luka. Hasilnya menjanjikan, tetapi baru terbukti pada hewan percobaan, belum pada manusia.
Oleh: Baso Taufik
Mahasiswa S2 Biomedis Universitas Jendral SoedirmanPurwokerto
Tumpukan kulit pisang yang biasanya berakhir di tempat sampah. (Sumber: Dok. pribadi)
Di Majene, pisang tumbuh di hampir setiap kebun. Dalam bahasa Mandar pisang disebut loka, dan buahnya mudah ditemui di pasar mana pun, dari Banggae sampai Malunda.
Setelah buahnya jadi pisang goreng, barongko, atau dimakan langsung, kulitnya biasanya berakhir di tempat sampah atau jadi pakan kambing. Padahal, peneliti di Brasil, Taiwan, Pakistan, dan Indonesia sudah menguji kulit pisang untuk menyembuhkan luka. Tulisan ini merangkum apa yang sudah diketahui dan apa yang belum.
Luka Sembuh Lewat Empat Tahap
Saat tangan teriris parang di kebun atau kaki tergores karang di pantai, tubuh langsung bekerja memperbaiki diri.
Prosesnya berlangsung bertahap:
Peradangan itu perlu, tetapi tidak boleh kebablasan. Tubuh memanggil pasukan pembersih lewat zat penanda, salah satunyabernama IL-6. Bayangkan IL-6 seperti pengumuman kerja bakti di kampung: perlu untuk mengumpulkan warga, tetapi kalau terus diumumkan setelah pekerjaan selesai, justru membuat kacau. Peradangan yang berlarut-larut membuat luka lama sembuh, seperti yang sering dialami penderita kencing manis (diabetes).
Apa Kata Penelitian?
Kulit pisang paling konsisten dalam satu hal: meredakan peradangan lebih cepat. Kesimpulan ini datang dari tinjauan sistematis , yaitu cara meneliti dengan menyaring dan menilai banyak penelitian sekaligus. Dari 26 artikel di empat pangkalan data ilmiah, tersisa empat penelitian yang memenuhi syarat. Semuanya menguji salep, gel, atau ekstrak kulit pisang pada luka mencit dan tikus, termasuk satu penelitian Indonesia yang memakai kulit pisang kepok.
Hasilnya pada hewan yang diberi kulit pisang:
Ukuran luka tidak selalu mengecil lebih cepat. Pada luka tikus penderita diabetes, dan pada gel campuran kulit pisang, luka menutup jauh lebih cepat: 86% tertutup pada hari ke-9, dibanding 33% pada luka yang hanya dibilas air garam. Namun pada luka sangat kecil (4 mm) yang diolesi salep kulit pisang kepok, tidak ada beda nyata. Wajar saja, luka sekecil itu memang cepat sembuh sendiri.
Artinya, perbaikan di dalam jaringan sudah terlihat jelas, tetapi belum selalu tampak dari luar.
Rahasianya Ada di Kulit Pisang
Kulit pisang menyimpan beberapa senyawa alami yang bekerja bersama-sama:
Tanin dan leukosianidin lebih banyak terdapat pada kulit pisang mentah atau hijau. Karena itu, para peneliti menilai kulit pisang mentah lebih menjanjikan dibanding kulit pisang yang sudahmatang.
Urutan kerjanya terlihat dari penelitian: peradangan mereda lebih dulu pada hari ke-3 sampai ke-6, lalu kolagen dan pembuluh darah baru menyusul. Kulit pisang tampaknya mempersingkat masa peradangan, sehingga luka lebih cepatmasuk ke tahap membangun ulang.
Kearifan Lokal yang Menunggu Dibuktikan
Majene punya dua modal berharga: pisang yang melimpah dan pengetahuan pengobatan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Banyak warga Mandar masih mengenal ramuan dari tumbuhan di sekitar kampung. Ilmu kedokteran modern bisa menjadi jembatan bagi pengetahuan semacam ini: menguji mana yang benar bermanfaat, berapa takaran yang aman, dan bagaimana cara mengolahnya.
Penelitian kulit pisang untuk luka sejauh ini dilakukan jauh dari Sulawesi Barat. Jenis-jenis pisang yang tumbuh di kebun warga majene belum diuji. Inilah peluang bagi peneliti dan kampus di daerah sendiri.
Jika kelak terbukti, manfaatnya berlapis:
Tunggu Dulu: Jangan Langsung Tempelkan Kulit pisang ke Luka
Hasil di atas belum bisa langsung dipraktikkan di rumah, karena tiga alasan:
Untuk luka ringan sehari-hari, langkah yang sudah terbuktiaman adalah:
Segera periksakan ke Puskesmas bila:
Penutup
Kulit pisang menyimpan harapan sebagai obat luka yang murah, terutama kulit yang masih hijau. Namun harapan itu masih perlu dibuktikan lewat penelitian yang lebih besar dan teliti sebelum aman dipakai manusia. Sambil menunggu, rawatlah luka dengan cara yang sudah terbukti, dan jangan buang dulu rasa ingin tahu terhadap kekayaan kebun kita sendiri.
Penulis adalah mahasiswa Magister Ilmu Biomedis, Fakultas kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Tulisan ini disarikan dari tinjauan sistematis penulis tentang efek ekstrak kulit pisang terhadap penyembuhan luka.
Rujukan




