Beranda Pendidikan Kulit Pisang, Obat Luka dari Kebun Sendiri?

Kulit Pisang, Obat Luka dari Kebun Sendiri?

2

Kulit pisang yang biasa kita buang ternyata sedang diteliti sebagai bahan obat luka. Hasilnya menjanjikan, tetapi baru terbukti pada hewan percobaan, belum pada manusia.

Oleh: Baso Taufik

Mahasiswa S2 Biomedis Universitas Jendral SoedirmanPurwokerto

Tumpukan kulit pisang yang biasanya berakhir di tempat sampah. (Sumber: Dok. pribadi)

Di Majene, pisang tumbuh di hampir setiap kebun. Dalam bahasa Mandar pisang disebut loka, dan buahnya mudah ditemui di pasar mana pun, dari Banggae sampai Malunda.

Setelah buahnya jadi pisang goreng, barongko, atau dimakan langsung, kulitnya biasanya berakhir di tempat sampah atau jadi pakan kambing. Padahal, peneliti di Brasil, Taiwan, Pakistan, dan Indonesia sudah menguji kulit pisang untuk menyembuhkan luka. Tulisan ini merangkum apa yang sudah diketahui dan apa yang belum.

Luka Sembuh Lewat Empat Tahap

Saat tangan teriris parang di kebun atau kaki tergores karang di pantai, tubuh langsung bekerja memperbaiki diri.

Prosesnya berlangsung bertahap:

1. Menghentikan darah. Keping darah menggumpal dan menyumbat pembuluh yang robek.
2. Peradangan. Luka jadi merah, bengkak, hangat, dan nyeri. Itu tanda “pasukan pembersih” tubuh datang membasmikuman dan kotoran.
3. Membangun ulang. Sel bernama fibroblas membuat kolagen, semacam semen yang merekatkan kulit. Pembuluh darah baru tumbuh, lalu kulit baru menutup permukaan luka.
4. Pematangan. Bekas luka menguat perlahan selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan.

Peradangan itu perlu, tetapi tidak boleh kebablasan. Tubuh memanggil pasukan pembersih lewat zat penanda, salah satunyabernama IL-6. Bayangkan IL-6 seperti pengumuman kerja bakti di kampung: perlu untuk mengumpulkan warga, tetapi kalau terus diumumkan setelah pekerjaan selesai, justru membuat kacau. Peradangan yang berlarut-larut membuat luka lama sembuh, seperti yang sering dialami penderita kencing manis (diabetes).

Apa Kata Penelitian?

Kulit pisang paling konsisten dalam satu hal: meredakan peradangan lebih cepat. Kesimpulan ini datang dari tinjauan sistematis , yaitu cara meneliti dengan menyaring dan menilai banyak penelitian sekaligus. Dari 26 artikel di empat pangkalan data ilmiah, tersisa empat penelitian yang memenuhi syarat. Semuanya menguji salep, gel, atau ekstrak kulit pisang pada luka mencit dan tikus, termasuk satu penelitian Indonesia yang memakai kulit pisang kepok.

Hasilnya pada hewan yang diberi kulit pisang:

• Sel radang di luka: turun kira-kira separuh, misalnya dari251 menjadi 121 sel pada hari ke-3.
• IL-6 (penanda peradangan): turun di ketiga penelitian yang mengukurnya; di dalam darah dari 92 menjadi 41 pg/mL.
• Kolagen (semen kulit): naik; pada hari ke-9 mengisi 56% jaringan luka, dibanding 30% tanpa kulit pisang.
• Pembuluh darah dan kulit baru: tumbuh dan menutup lebih cepat.
• Ukuran luka: hasilnya belum seragam.

Ukuran luka tidak selalu mengecil lebih cepat. Pada luka tikus penderita diabetes, dan pada gel campuran kulit pisang, luka menutup jauh lebih cepat: 86% tertutup pada hari ke-9, dibanding 33% pada luka yang hanya dibilas air garam. Namun pada luka sangat kecil (4 mm) yang diolesi salep kulit pisang kepok, tidak ada beda nyata. Wajar saja, luka sekecil itu memang cepat sembuh sendiri.

Artinya, perbaikan di dalam jaringan sudah terlihat jelas, tetapi belum selalu tampak dari luar.

Rahasianya Ada di Kulit Pisang

Kulit pisang menyimpan beberapa senyawa alami yang bekerja bersama-sama:

• Flavonoid meredam zat penanda peradangan seperti IL-6, sehingga pasukan pembersih tidak bekerja berlebihan. Senyawa ini juga membantu kolagen yang sudah terbentuk tidak cepat terurai.
• Saponin membantu tubuh membangun jaringan baru dan menutup permukaan luka.
• Tanin bersifat antiseptik (melawan kuman) dan mendorongsel fibroblas bekerja.
• Leukosianidin memacu sel kulit membelah lebih cepat.

Tanin dan leukosianidin lebih banyak terdapat pada kulit pisang mentah atau hijau. Karena itu, para peneliti menilai kulit pisang mentah lebih menjanjikan dibanding kulit pisang yang sudahmatang.

Urutan kerjanya terlihat dari penelitian: peradangan mereda lebih dulu pada hari ke-3 sampai ke-6, lalu kolagen dan pembuluh darah baru menyusul. Kulit pisang tampaknya mempersingkat masa peradangan, sehingga luka lebih cepatmasuk ke tahap membangun ulang.

Kearifan Lokal yang Menunggu Dibuktikan

Majene punya dua modal berharga: pisang yang melimpah dan pengetahuan pengobatan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Banyak warga Mandar masih mengenal ramuan dari tumbuhan di sekitar kampung. Ilmu kedokteran modern bisa menjadi jembatan bagi pengetahuan semacam ini: menguji mana yang benar bermanfaat, berapa takaran yang aman, dan bagaimana cara mengolahnya.

Penelitian kulit pisang untuk luka sejauh ini dilakukan jauh dari Sulawesi Barat. Jenis-jenis pisang yang tumbuh di kebun warga majene belum diuji. Inilah peluang bagi peneliti dan kampus di daerah sendiri.

Jika kelak terbukti, manfaatnya berlapis:

• Limbah jadi bernilai. Kulit yang selama ini dibuang bisa menambah penghasilan petani pisang.
• Obat yang murah dan dekat. Bahannya tersedia di kebun sendiri, tidak perlu didatangkan dari jauh.
• Pengetahuan terjaga. Ramuan tradisional tercatat dan teruji, tidak hilang bersama generasi tua.

Tunggu Dulu: Jangan Langsung Tempelkan Kulit pisang ke Luka

Hasil di atas belum bisa langsung dipraktikkan di rumah, karena tiga alasan:

5. Baru diuji pada hewan. Belum ada bukti bahwa hasilnya sama pada manusia.
6. Bukan kulit pisang mentah-mentah. Peneliti memakai ekstrak, salep, atau gel yang diolah di laboratorium. Kulit pisang langsung dari kebun bisa membawa tanah dan kuman, termasuk kuman tetanus, sehingga luka malah bisainfeksi.
7. Penelitiannya masih sedikit. Hanya empat penelitian, jumlah hewannya kecil, dan cara pengolahannya berbeda-beda. Takaran yang aman belum diketahui.

Untuk luka ringan sehari-hari, langkah yang sudah terbuktiaman adalah:

• Cuci tangan, lalu bilas luka dengan air bersih mengalir dan sabun.
• Tekan dengan kain bersih bila masih berdarah.
• Tutup dengan kasa atau plester bersih, dan ganti bila basah atau kotor.

Segera periksakan ke Puskesmas bila:

• Luka dalam, lebar, atau darah tidak berhenti setelah ditekan10 menit.
• Luka kotor terkena tanah, besi berkarat, atau gigitan hewan, karena mungkin perlu suntikan tetanus.
• Muncul tanda infeksi: makin merah, bengkak, bernanah, berbau, atau disertai demam.
• Anda menderita kencing manis, sekecil apa pun lukanya.
• Luka tidak membaik setelah satu sampai dua minggu.


Penutup

Kulit pisang menyimpan harapan sebagai obat luka yang murah, terutama kulit yang masih hijau. Namun harapan itu masih perlu dibuktikan lewat penelitian yang lebih besar dan teliti sebelum aman dipakai manusia. Sambil menunggu, rawatlah luka dengan cara yang sudah terbukti, dan jangan buang dulu rasa ingin tahu terhadap kekayaan kebun kita sendiri.

Penulis adalah mahasiswa Magister Ilmu Biomedis, Fakultas kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Tulisan ini disarikan dari tinjauan sistematis penulis tentang efek ekstrak kulit pisang terhadap penyembuhan luka.

Rujukan

• Rukyat dkk. (2025). Efek ekstrak kulit pisang kepok pada penyembuhan luka mencit. World’s Veterinary Journal.
• Munir dkk. (2023). Hidrogel serisin dengan kulit pisang untuk luka akut. ACS Omega.
• Cheng dkk. (2020). Ekstrak pisang mempercepat penyembuhan luka tikus diabetes. Archives of Medical Science.
• Von Atzingen dkk. (2015). Gel kulit pisang mentah 10% pada luka bedah tikus. Acta Cirúrgica Brasileira.